Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : BI: Utang Luar Negeri RI Turun Jadi Rp7.152 Triliun per November 2025
Advertisement . Scroll to see content

Berbeda dengan Malaysia, Utang Indonesia Masih dalam Batas Aman

Minggu, 27 Mei 2018 - 17:07:00 WIB
Berbeda dengan Malaysia, Utang Indonesia Masih dalam Batas Aman
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Warga Malaysia menggalang dana untuk mengurangi utang negaranya yang mencapai 1 triliun ringgit Malaysia, setara Rp3.500 triliun (1 RM senilai Rp3.500). Sebab, nominal tersebut membuat rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 80,3 persen.

Utang Indonesia hingga 30 April 2018 menyentuh Rp4.180 triliun atau naik 6,2 persen dibanding periode yang sama di tahun lalu yang sebesar Rp3.667 triliun. Penggalangan dana untuk mengurangi utang Indonesia seperti yang dilakukan negara Malaysia pun mengemuka ke publik. Namun, apakah hal tersebut bisa direalisasikan?

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah mengatakan, kondisi Malaysia dengan Indonesia sangat berbeda. Sebab, rasio utang negara Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) masih 29,88 persen. Dengan demikian, masih jauh di bawah batas yang diizinkan 60 persen.

"Kondisi kita sangat berbeda. Utang pemerintah kita hanya sekitar 30 persen dari PDB dan pengelolaan fiskal kita sangat baik dan hati-hati," kata dia saat dihubungi iNews.id, Minggu (27/5/2018).

Selain itu, persoalan negara ini dinilai bukan pada utang pemerintah melainkan pada utang luar negeri yang dibayar menggunakan valuta asing (valas). Apalagi dengan nilai tukar rupiah yang terus melemah di atas Rp14.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

"Persoalan kita sebenarnya bukan di utang pemerintah melainkan pada utang luar negeri khususnya lagi pada current account deficit yang solusinya bukan dengan urunan bayar utang," ucapnya.

Untuk itu, pemerintah perlu mengubah struktur utang dengan mengurangi atau bahkan menghentikan utang luar negeri. Sebab, dengan pelemahan rupiah tadi tentu akan membuat nominal utang menjadi membengkak dari sebelumnya.

Selain itu, diikuti pula dengan struktur ekspor dengan mengurangi kebutuhan impor baik barang maupun jasa. Hal ini disebabkan pada April 2018 impor melonjak lebih tinggi yaitu 16,09 miliar dolar AS dibanding ekspor 14,47 miliar dolar AS.

"Ini yang harus dilakukan oleh pemerintah dengan perencanaan yang sangat matang," tuturnya.

Namun, meski utang Malaysia dalam kondisi yang mengkhawatirkan tapi tindakan warganya tidak cukup  signifikan mengurangi utang pemerintahan. "Tetapi sebagai gebrakan pemerintah baru itu cukup efektif untuk meyakinkan rakyat Malaysia bahwa selama rezim yang lama ada pengelolaan keuangan yang salah dan pemerintah yang baru akan melakukan reformasi total," kata Piter.

Editor: Ranto Rajagukguk

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut