Rumput Laut Pulau Panggang Bawa Peluang, BRI Bantu Mahdiah Kembangkan Dorula
JAKARTA, iNews.id – Matahari menjadi bagian penting dalam proses produksi Dorula, dodol berbahan rumput laut milik Mahdiah. Selama cuaca cerah, rumput laut cukup dijemur sekitar tiga hari sebelum diolah menjadi penganan manis.
Namun ketika langit mendung dan hujan datang, proses pengeringan dapat mamakan waktu hingga sepekan. Cuaca menjadi penentu utama kelancaran produksi Dorula.
Mahdiah masih mempertahankan rutinitas tersebut di rumahnya yang berlokasi di Pulau Panggang, Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta. Perempuan berusia 56 tahun itu sabar menunggu panas matahari setiap kali memproduksi dodol rumput laut.

Potensi rumput laut di Pulau Panggang diolah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi. Prosesnya memang tidak singkat.
"(Usaha) masih (berjalan), sih. Kemarin saya produksi," kata Mahdiah kepada iNews.id saat ditemui di Pulau Panggang pada Senin (15/6/2026).
Mahdiah mengingat betul perjalanannya mengikuti program pemberdayaan BRI bermula secara tidak sengaja. Saat itu, dia mengikuti sebuah bazar di Balai Kota Jakarta dengan membawa produk olahan rumput laut.
Dari kegiatan tersebut, perwakilan BRI melihat potensi yang dimiliki warga Pulau Panggang.
"Dari 2020. Awalnya saya bazar di Balai Kota. Akhirnya ketemu orang BRI. Datang ke mari orang BRI, suruh bikin kelompok rumput laut," ujarnya.

Pertemuan itu menjadi awal lahirnya kelompok usaha rumput laut di Pulau Panggang. Mahdiah kemudian dipercaya menjadi ketua kelompok yang beranggotakan 10 orang. Seluruh anggotanya memproduksi dodol rumput laut dengan memanfaatkan hasil laut yang tersedia di sekitar pulau.
Selama kurang lebih satu tahun, kelompok tersebut memperoleh pendampingan secara intensif lewat program Peningkatan Keterampilan Usaha Rakyat (PKUR) dari Yayasan Baitul Maal (YBM) BRILiaN.
Pendampingan tidak hanya berfokus pada cara mengolah produk hingga siap dipasarkan. Para anggota kelompok juga dibekali dengan kemampuan mengelola usaha agar dapat berkembang secara berkelanjutan.
"Terus berjalan dibimbing sama mereka, satu tahun. Diajarin pembukuan, dikasih modal," kata Mahdiah.
Berbeda dengan skema pinjaman usaha, bantuan yang diterima Mahdiah bersama kelompoknya berupa hibah. Seluruh dana yang diperoleh dapat langsung digunakan untuk menunjang kegiatan produksi.
"Kita dikasih modal cuma-cuma. Dipakai buat beli perabotan, beli bahan-bahan," ujarnya.
Menurut Mahdiah, total bantuan yang diterima kelompok mencapai lebih dari Rp40 juta. Dana tersebut dibagi kepada seluruh anggota untuk membeli berbagai kebutuhan produksi, mulai dari kompor, wajan, hingga bahan baku pembuatan dodol.
Tak hanya bantuan modal, kelompok juga memperoleh gerobak yang dimanfaatkan untuk membantu memasarkan hasil produksi kepada masyarakat.
"Uang waktu itu untuk 10 orang Rp40 juta lebih, bantuan modal berbentuk uang. Kita belanjakan buat bahan baku. Jadi satu orang Rp4 juta lebih, buat beli kompor, wajan, bahan-bahan untuk bikin dodol," katanya.
Selain belajar menyusun pembukuan sederhana, Mahdiah dan anggota kelompok mulai memahami pentingnya menjaga keberlanjutan usaha agar produk olahan rumput laut dapat terus dipasarkan.
Meski program pendampingan telah selesai dan kelompok usaha kini tidak lagi aktif, Mahdiah tetap melanjutkan produksi dodol rumput laut secara mandiri.
Pengalaman mengikuti pelatihan tersebut menjadi bekal penting baginya dalam menjalankan usaha hingga sekarang. Selain dodol, dia juga pernah mencoba mengembangkan produk turunan lain berupa kerupuk rumput laut.
"Kelompoknya sudah bubar, tapi jualannya masih. Dilatih setahun dari BRI, terus kitanya mengembangkan sendiri," ujarnya.
Saat ini, Dorula dijual seharga Rp20.000 per kemasan berukuran 200 gram. Produk tersebut memiliki masa simpan sekitar satu bulan pada suhu ruang, tetapi dapat bertahan lebih lama apabila disimpan dalam freezer.
Seluruh proses produksi masih mengandalkan cara-cara sederhana. Setelah rumput laut dikeringkan di bawah sinar matahari, bahan tersebut diolah menjadi dodol dengan berbagai tahapan sebelum akhirnya dikemas dan dipasarkan.
"Produksi paling lama seminggu, karena kan ini jemur alami. Kalau mataharinya bagus tiga hari jadi," ujarnya.
Tak hanya melalui program pemberdayaan seperti yang diterima Mahdiah, BRI juga menghadirkan layanan perbankan langsung ke Pulau Panggang melalui Kapal Bahtera Seva I.
Sepekan sekali, kapal layanan terapung tersebut bersandar di Pulau Panggang untuk melayani berbagai kebutuhan transaksi keuangan masyarakat yang selama ini harus menempuh perjalanan laut jika ingin datang ke kantor bank di daratan Jakarta.
Kepala Teras BRI Kapal Bahtera Seva I Algi Meza ikut turun langsung melayani para nasabah. Menurutnya, fasilitas yang tersedia di atas kapal dibuat sama seperti layanan di kantor BRI pada umumnya.
"Pelayanannya macam-macam, ada yang ganti kartu, PIN yang terblokir, ada yang ganti buku, ada yang penarikan, ada yang setor tunai, ada juga yang pengajuan pinjaman," ujar Algi.
Dalam setiap kunjungan ke Pulau Panggang, sedikitnya lebih dari 20 nasabah memanfaatkan layanan tersebut. Sebagian besar merupakan nelayan, sementara sisanya terdiri atas pedagang sembako hingga pelaku usaha mikro yang menjalankan usahanya di wilayah kepulauan.
Algi menjelaskan, pola aktivitas ekonomi masyarakat Kepulauan Seribu memiliki karakteristik tersendiri karena sangat dipengaruhi kondisi alam. Bagi nelayan, hasil tangkapan dan pendapatan sangat bergantung pada cuaca di laut.
"Di sini mereka mengandalkan cuaca kalau untuk nelayan. Kalau cuacanya lagi bagus ya mereka tidak ada kendala untuk pembayaran," katanya.
Selain melayani kebutuhan transaksi masyarakat, Kapal Bahtera Seva I juga menjadi titik penyetoran uang bagi jaringan AgenBRILink yang tersebar di berbagai pulau. Selama kapal belum datang, para agen inilah yang lebih dulu melayani kebutuhan transaksi harian warga.
"Kebanyakan di sini kita terima setoran dari AgenBRILink. Karena mitra kita yang membantu kita sewaktu-waktu enggak ke pulau, jadi kebanyakan nasabah kita setor tariknya di AgenBRILink," ujarnya.
Tingginya aktivitas transaksi membuat nilai uang yang dibawa kembali ke daratan setiap pekan mencapai miliaran rupiah. Dalam satu siklus pelayaran dari Senin hingga Jumat, nominal kas yang dihimpun dapat menembus Rp2 miliar.
"Kas yang kami bawa dari Senin sampai Jumat bisa sampai Rp2 miliar. Paling kecil di bawah Rp1 miliar," kata Algi.
Antusiasme warga terhadap layanan terapung ini pun tak pernah surut. Bahkan, menurut Algi, masyarakat kerap sudah menunggu di dermaga jauh sebelum kapal terlihat mendekat.
"Sebelum kapal menyandar mereka biasanya sudah antre. Kadang ada yang bertanya kenapa datangnya lama, padahal perjalanan juga bergantung ombak dan cuaca," tuturnya.
Editor: Rizky Agustian