QRIS BRI Jadi Andalan Warung Asep Layani Pembeli, Tak Perlu Cari Uang Kembalian
JAKARTA, iNews.id - Mayoritas pelanggan yang berasal dari kalangan generasi muda membuat Utayana alias Asep, pemilik Warung Asep di kawasan Bintaro, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, harus menyediakan alternatif metode pembayaran. Dia mengakui cara pelanggan bertransaksi kini telah bergeser dari uang tunai ke pembayaran digital.
Asep pun memutuskan menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) BRI. Menurut dia, QRIS BRI sangat membantu usaha yang sebagian besar pelanggannya merupakan mahasiswa Institut Pariwisata (IP) Trisakti karena lokasi warung berada dekat kampus tersebut.
“Anak-anak kampus tuh otomatis membutuhkan QRIS untuk transaksi pembayaran,” kata Asep saat ditemui iNews.id di warungnya pada Selasa (26/5/2026).
Dia mengaku sudah menggunakan layanan QRIS BRI selama lima tahun terakhir. Keberadaan pembayaran digital diakuinya membuat transaksi di Warung Asep menjadi lebih praktis dibanding sebelumnya.
Bahkan, dia berkelakar QRIS BRI sangat membantu dalam mengurangi kebiasaan pelanggan berutang dengan alasan tak membawa uang tunai.
“Kadang-kadang gak pegang cash kalau mau makan lapar gitu kan. Kalau gak ada QRIS, dia besok lagi baru bayarnya,” tutur dia sambil tertawa.
Asep mengatakan pelanggan warungnya bisa langsung membayar tanpa harus menggunakan uang tunai. Pembayaran bisa langsung dilakukan bahkan sebelum makanan tersaji.
Menurut dia, penggunaan QRIS BRI juga membantu operasional Warung Asep karena transaksi menjadi lebih rapi dan praktis. Dia tak lagi harus menyiapkan kembalian.

“Gak perlu kembalian juga,” ujarnya.
Asep yang telah menjadi nasabah BRI sejak 2019 lalu juga memanfaatkan fasilitas kredit usaha rakyat (KUR). Pembiayaan tersebut membantu mempertahankan usahanya, terutama saat pandemi Covid-19 membuat kondisi keuangan keluarga terganggu.
Saat itu, dia sempat kesulitan membiayai pendidikan dua anaknya yang mondok di pesantren. Dana KUR kemudian digunakan untuk menopang operasional usaha demi membiayai pendidikan anak-anaknya.
Dia mengatakan hasil usaha warung menjadi penopang utama pendidikan ketiga anaknya. Anak pertamanya telah lulus kuliah dengan titel sarjana hukum pada 2024, sementara anak kedua kini tengah menyelesaikan kuliah dan bersiap wisuda.
Meski usaha warung sederhana, Asep mengaku tetap berusaha mempertahankan bisnis yang sudah dijalaninya hampir tiga dekade tersebut. Karena itu, dia berencana kembali mengajukan KUR BRI untuk membantu kebutuhan modal usaha dan biaya operasional ke depan.
“Mungkin September udah ngajuin lagi pinjaman KUR,” kata Asep.
Kemudahan pembayaran menggunakan QRIS BRI turut dirasakan salah satu pelanggan, Zidan. Pemuda 19 tahun itu menilai keberadaan QRIS BRI membuat transaksi di Warung Asep semakin praktis.
Zidan mengaku lebih sering menggunakan pembayaran digital dibanding uang tunai. Karena praktis, dia hanya perlu memindai QRIS menggunakan handphone (HP) untuk membayar pesanannya.

“Lumayan sangat membantu sih, salah satu cara efektif karena semua sudah era digital,” ujar Zidan.
Dia mengaku kini jarang membawa uang tunai saat nongkrong atau membeli makanan di Warung Asep.
“Gak pakai cash lagi, lebih mudah. Gak perlu ngantongin kembalian lagi,” katanya.
Direktur Information Technology BRI, Saladin Dharma Nugraha Effendi mengatakan BRI secara konsisten membangun kapabilitas digital yang terhubung dengan seluruh ekosistem layanan. Upaya itu dilakukan melalui jaringan ATM, CRM, mesin EDC merchant, QRIS BRI, hingga AgenBRILink.
Saladin menyatakan BRI tidak hanya berorientasi pada peningkatan volume transaksi dalam transformasi digital. Bank pelat merah itu juga berfokus pada peningkatan kualitas layanan dan keandalan sistem.
"Kami terus memperkuat kapabilitas teknologi agar BRImo mampu memberikan pengalaman transaksi yang semakin andal, sekaligus mendukung aktivitas ekonomi nasabah di berbagai segmen," ujar Saladin.
Dia mengatakan BRI senantiasa memastikan layanan digital tetap stabil, aman, dan mampu mengakomodasi pertumbuhan transaksi yang terus meningkat melalui penguatan arsitektur teknologi, modernisasi infrastruktur, serta pengelolaan sistem yang berkelanjutan.
Editor: Rizky Agustian