Puing Berganti Pakcoy, BRI Dampingi Taman Urban Farming Dahlia Tebar Manfaat ke Warga
JAKARTA, iNews.id - Sebelum ditumbuhi pakcoy, sawi, hingga kangkung, lahan di tengah permukiman padat RW 07 Kelurahan Cempaka Putih Barat, Kecamatan Cempaka Putih, Jakarta Pusat ini lebih akrab dengan tumpukan puing bangunan. Warga bahkan pernah menjadikannya tempat membuang sampah dan mengikat kambing.
Suasananya kini berubah total. Bedeng-bedeng tanaman memenuhi sudut lahan yang kini diberi nama Taman Urban Farming Dahlia ini, sementara warga silih berganti datang untuk menanam, memanen, hingga belajar bercocok tanam.
Transformasi tersebut lahir dari inisiatif warga yang kemudian diperkuat melalui dukungan BRI. Kebun sederhana itu berkembang menjadi sentra urban farming yang menghasilkan sayuran organik dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.
Setiap beberapa pekan, pakcoy, sawi, kangkung, hingga terong dipanen dari bedeng-bedeng sederhana. Sayuran itu sebagian dibagikan kepada warga, sebagian lagi dijual untuk membeli bibit dan pupuk agar kebun tetap hidup.
Pengurus Taman Urban Farming Dahlia, Sukarni menyatakan seluruh tanaman di lahan ini dibudidayakan secara organik. Pengelola tidak menggunakan pupuk kimia maupun pestisida sintetis.
"Kalau konvensional juga di sini kita termasuk tanaman organik, karena kita tidak menggunakan urea atau NPK. Paling pupuk kandang saja," kata Pengurus Taman Urban Farming Dahlia, Sukarni kepada iNews.id pada Senin (22/6/2026).
Ketika tanaman diserang hama, kata dia, warga memilih membuat pestisida alami dari bahan dapur.
"Kalau kemarin waktu kita kena ada kutu-kutu itu, dibikin obatnya dari bawang putih campur air kita semprotin," ujarnya.
Menurut Sukarni, kawasan hijau tersebut dulunya hanyalah lahan kosong yang terbengkalai.
Rumah Sukarni berada tepat di samping lokasi itu. Selama bertahun-tahun, dia melihat lahan tersebut berubah menjadi tempat pembuangan puing bangunan, bahkan sesekali dijadikan lokasi mengikat kambing sehingga menimbulkan bau yang mengganggu warga sekitar.

Melihat kondisi tersebut, Sukarni mulai berpikir lahan ini seharusnya bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yang lebih berguna.
"Melihat dari situ saya jadi berinisiatif, 'Kenapa enggak dibikin sesuatu yang bermanfaat ya?' Akhirnya saya merintis tuh sedikit-sedikit," katanya.
Awalnya, hanya ada beberapa tanaman peria atau pare dan jeruk nipis yang ditanam bersama ibu-ibu Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Meski belum banyak warga yang terlibat, tetapi perlahan hasil panen kecil mulai terlihat.
Semangat itu semakin tumbuh ketika kawasan tersebut mengikuti Program Kampung Iklim (Proklim) dari Kementerian Lingkungan Hidup (LH). Warga kemudian bergotong royong membersihkan lahan bersama pengurus RT dan petugas PPSU.
"Karena ini dulu tempat buang sampah. Akhirnya diangkat semua, dirapiin, kita bikin ala-ala desa. Kita bikin saung bambu. Pokoknya manfaatin bahan-bahan yang enggak kepakai di luar, angkutin ke sini," ujar Sukarni.
Sedikit demi sedikit wajah kawasan berubah. Jalan diperkeras menggunakan konblok, saung dibangun sebagai tempat berkumpul warga, sementara berbagai tanaman mulai memenuhi lahan yang sebelumnya terbengkalai.
Perubahan tersebut menarik perhatian banyak pihak, termasuk BRI.
Melihat potensi Taman Urban Farming Dahlia yang dibangun secara swadaya oleh warga, BRI Peduli melalui program BRI Bertani di Kota (BRInita) kemudian memberikan dukungan untuk mengembangkan kawasan tersebut.

"Awalnya kita swadaya. Terus kemudian ada dari BRI ngelihat waktu itu, 'Oh masih ada di Jakarta tempat terpencil kayak gini dimanfaatin jadi urban farming,'" kata Sukarni.
Setelah melalui proses perizinan dengan kelurahan dan pengelola lahan, pembangunan dilakukan pada 2022.
Berbagai fasilitas kemudian dibangun untuk menunjang aktivitas warga, mulai dari pagar, gazebo, bedeng tanam, kolam ikan, kanopi, kamar mandi, pompa air, hingga mesin pencacah.
"Kontribusinya dari BRI awal ya bibit dapat, kemudian fasilitasnya kayak pagar, kamar mandi semua dapat. Gazebo ini juga dari BRI. Kolam juga dapat dari BRI," ujarnya.
Selain membangun fasilitas fisik, BRI juga memberikan berbagai pelatihan mengenai teknik budidaya tanaman.
"Dulu ada soal bercocok tanam dari BRI. Misalnya cara nanam, cara memelihara tanaman yang benar," katanya.
Seiring bertambahnya pengalaman warga, hasil panen Taman Urban Farming Dahlia tak lagi hanya dinikmati sendiri. Sebagian sayuran mulai dipasarkan kepada masyarakat sekitar.
Bahkan belum lama ini, pengelola berhasil memasok sekitar 28 kilogram pakcoy ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cempaka Putih Timur 2 untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Terakhir kita panen pakcoy itu 28 kilogram kita jual ke SPPG. Lumayan itu kemarin," ujar Sukarni.
Meski demikian, keuntungan finansial bukanlah tujuan utama. Menurut Sukarni, hasil penjualan kembali diputar untuk membeli bibit, pupuk organik, dan memenuhi kebutuhan operasional kebun.
"Kalau ditanya berapa sih keuntungannya? Kita belum bisa teriak kita dapat keuntungan. Paling kita kelola dapat Rp100.000 sampai Rp200.000. Kemudian kita belikan lagi untuk kompos, beli bibit lagi," katanya.
Manfaat terbesar yang dirasakan Sukarni dari keberadaan Taman Urban Farming Dahlia justru tidak diukur dari jumlah panen. Kebun tersebut telah menjadi ruang berkumpul warga, tempat belajar anak-anak, sekaligus media mempererat hubungan antarwarga.
Dia mengatakan anak-anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) rutin datang untuk belajar menyemai benih, menanam, hingga memanen sayuran. Saat panen ikan lele, warga juga bergotong royong membersihkan dan mengolah hasilnya sebelum dijual.
"Yang tadinya jarang ketemu kan bisa jadi kumpul di sini. Silaturahmi itu yang kita jaga," ujarnya.
Menurut Sukarni, suasana kebersamaan itulah yang membuat Taman Urban Farming Dahlia memiliki nilai lebih dibanding sekadar lahan pertanian.
"Kalau kita panen lele aja bapak-bapak yang ambilin, bantuin nyuci. Bareng-bareng. Jadi itu satu momen yang belum tentu semua orang bisa ngerasain. Orang bilang, 'Enak lho di sana pada rukun,'" katanya.
Sukarni pun berharap Taman Urban Farming Dahlia dapat terus berkembang. Dia bermimpi ruang hijau di tengah kota itu mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi warga yang selama ini mengelolanya secara sukarela.
"Mudah-mudahan BRI bisa rutin membantu kita, untuk pupuk dan bibit saja. Mungkin bisa ada apresiasi juga," ujarnya.
Hasil panen Taman Urban Farming Dahlia tidak hanya menjadi konsumsi para pengelola kebun. Sebagian sayuran organik hingga ikan lele yang dihasilkan juga dibagikan kepada warga sekitar.
Suasana panen pun menjadi momen yang dinantikan warga. Ketika sayuran siap dipetik, warga RW 7 kerap datang untuk mengambil hasil panen yang dibagikan secara bergiliran.

Salah seorang warga RW 07 Cempaka Putih Barat, Erwin, mengaku keberadaan Taman Urban Farming Dahlia membawa manfaat nyata bagi lingkungan tempat tinggalnya. Menurut dia, hasil kebun tidak hanya dinikmati pengelola, tetapi juga dirasakan masyarakat sekitar.
"Lumayanlah. Apalagi buat warga RW, kalau panen-panen gitu bagi-bagi ke warga. Ada juga yang dijual. Hasil panen sayuran, ada ikan lele juga," ujar Erwin.
Dia mengaku beberapa kali membawa pulang hasil panen dari kebun tersebut. Warga yang ingin menikmati sayuran biasanya cukup datang saat panen berlangsung.
"Kalau ada panen, warga sini kalau mau ambil ya kita ambil aja, minta gitu ya. Terus dibagi-bagiin buat warga RW 07-lah," katanya.
Menurut Erwin, pola berbagi hasil panen itu membuat keberadaan kebun semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Warga dari luar RW 07 pun dapat membeli hasil panen yang tersedia.
"Ya ngerasainlah. Misal mau minta nanti dikasih. Kalau mau beli misal dari warga RW lain bisa," ujarnya.
Dia menilai keberadaan Taman Urban Farming Dahlia juga menjadi salah satu ruang yang paling aktif menggerakkan kegiatan masyarakat. Berbagai pelatihan hingga kunjungan dari instansi pemerintah rutin digelar di lokasi tersebut.
Dia mengungkapkan berbagai kegiatan edukasi itu juga melibatkan BRI yang selama ini mendampingi pengembangan Taman Urban Farming Dahlia.
"Iya dari pihak BRI. Kerja sama dengan pihak BRI juga. Adalah kegiatan. Aktif banget," ujarnya.

Keberadaan kebun itu, lanjut Erwin, bahkan beberapa kali menarik perhatian pemerintah daerah. Sejumlah pejabat dari tingkat kota hingga provinsi pernah berkunjung untuk melihat langsung pengembangan urban farming yang dikelola warga.
"Jangankan pendampingan, waktu menanam saja seluruh DKI (pejabat Pemprov DKI Jakarta) pernah datang ke sini, dari sudin, dari wali kota, dari gubernur. Waktu itu terakhir istri gubernur datang," katanya.
Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan pengembangan urban farming menjadi salah satu bentuk komitmen BRI dalam mendorong pelestarian lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat. Melalui program BRI Bertani di Kota (BRInita), BRI ingin menghadirkan ruang hijau yang tidak hanya memperbaiki kualitas lingkungan perkotaan, tetapi juga memberi manfaat ekonomi bagi warga.
Menurut dia, hasil panen dari kegiatan urban farming dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, menambah pendapatan melalui penjualan hasil panen, hingga mendukung berbagai kegiatan sosial di lingkungan masyarakat.
"Panen bisa dipakai untuk pangan keluarga, dijual untuk tambah penghasilan, atau ditukar dalam program sosial sebagai apresiasi," ujar Dhanny.
Dia menjelaskan, BRInita merupakan bagian dari upaya BRI mendukung pembangunan berkelanjutan dengan memperluas ruang terbuka hijau, mengurangi dampak pencemaran lingkungan, serta memperkuat ketahanan pangan berbasis komunitas. Program tersebut juga sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs).
"Bersama, kita wujudkan kota yang sehat dan berkelanjutan, demi masa depan pangan yang lebih baik untuk seluruh generasi," ucapnya.
Editor: Rizky Agustian