Pemerintah Targetkan Bangun Jalan Tol 18.000 Km, Begini Tahapannya
JAKARTA, iNews.id - Panjang jalan tol di Indonesia hingga 2019 mencapai 2.093 kilometer (km), naik tajam dari 2014 hanya 795 km. Dalam jangka panjang, pemerintah menargetkan pembangunan jalan tol 18.000 km.
Adapun selama 2020-2024, jalan tol baru akan dibangun sepanjang 2.724 km. Ini menjadikan bisnis sistem transportasi nasional menjanjikan, seiring masifnya pembangunan jalan tol.
Plt Anggota Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Unsur Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Mahbullah Nurdin mengungkapkan, transformasi bisnis jalan tol di Indonesia terdiri atas empat tahap. Pertama, inisiasi yang dimulai pada 1978-2005, kemudian konsolidasi 2005-2014, akselerasi 2014-2019, berikutnya transformasi inovasi dan modernisasi (TIM) pada 2019-2024.
Dia menjelaskan, transformasi berarti penciptaan nilai tambah, kemudian inovasi tumbuhnya gagasan baru, serta modernisasi menekankan pada pengalaman pengguna tol serta manajemen jalan tol. Modernisasi meliputi sistem transaksi, lalu lintas, dan aset infrastruktur.
Pemerintah Akan Bentuk Lembaga Pengelola Investasi
“Salah satu modernisasi yang kami lakukan adalah sistem pembayaran. Sistem transaksi tol berubah dari tunai menjadi nontunai. Ke depan, kami akan masuk MLFF (multilane free flow) yang masih dalam tahap pelelangan,” ujarnya, dalam diskusi virtual Bisnis Sistem Transportasi di Tengah Pandemi Covid-19 dilansir Minggu (22/11/2020).
Setiap tahun, bisnis sistem pembayaran tol rata-rata tumbuh 20 persen. Di mana dalam dua tahun ke depan, nilai pengadaan sistem pembayaran transportasi jalan tol diprediksi mencapai Rp4 triliun. Di luar itu, ada potensi bisnis dari penggantian (replacement) perangkat senilai Rp2 triliun.
Direktur Utama PT Delameta Bilano, perusahaan teknologi sistem transportasi berbasis riset dalam negeri, Tri Bayu Wicaksono menuturkan, pembangunan jalan tol terus bergulir di tengah pandemi Covid-19. Saat ini, total panjang tol di Indonesia masih kalah dari negara-negara Asia lain. China misalnya memiliki jalan tol sepanjang 15.000 km.
Dia menuturkan, tol yang sudah masuk tahap persiapan dan sudah digambar mencapai 5.000 km, dan yang sudah dibangun sepanjang 2.000 km. Adapun sisanya masih dalam tahap perencanaan.
"Melihat data tersebut, potensi bisnis sistem pembayaran transportasi sangat besar. Apalagi, ada bisnis replacement, karena biasanya perangkat harus diganti setelah masa pakai lima tahun," kata Bayu.
Dia menuturkan, bisnis sistem pembayaran transportasi menggeliat sejak mandatori penggunaan uang elektronik untuk pembayaran tol. Ini mendorong operator mencari sistem pembayaran andal yang dapat mendukung operasional. Pada titik ini, perusahaan sistem pembayaran membantu operator menjalankan bisnis secara efisien, mencegah terjadinya fraud, dan memperlancar arus keluar masuk kendaraan.
Bayu menyebutkan, perusahaan menawarkan sistem pembayaran jalan tol yang komplet, mulai dari automatic vehicle classification (AVC), loop vehicle sensor, collecting terminal machine, infra merah, palang atau lane barrier system, electronic toll collection (ETC), CCTV, variable message sign (VMS), hingga plate recognition. Sistem pembayaran Delameta sudah dipasang di 21 ruas tol, seperti Jagorawi, Jakarta-Tangerang, dan Balikpapan-Samarinda.
Dia menuturkan, mayoritas perangkat-perangkat tersebut diproduksi sendiri Delameta di pabrik Pulogadung, Jakarta. Kapasitas produksi pabrik itu mencapai 400 unit per tahun.
Sementara kompetitor, lanjut dia, mengimpor dari luar negeri kemudian merangkai perangkat-perangkat itu menjadi sebuah sistem. Di sini perusahaan memiliki keunggulan, lantaran membangun sistem dengan perangkat sendiri.
Bayu menilai, sistem pembayaran transportasi akan naik lebih kencang jika sistem fee base income diterapkan. Sebab, dalam skema ini, operator tidak perlu berinvestasi lagi di sistem pembayaran, melainkan dipasok oleh perusahaan seperti Delameta. Operator tinggal membagi hasil operasional tol dengan perusahaan sistem pembayaran. "Kami sedang menjajaki skema ini dengan beberapa operator tol," katanya.
Bayu menambahkan, bisnis sistem pembayaran transportasi juga telah merambah pelabuhan. Delameta kini menyediakan sistem pembayaran akses (gate pass) di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Sistem ini terdiri atas reader, AVC sensor, automatic lane barrier (ALB), customer display panel (CDB) yang menampilkan tarif, golongan, dan sisa saldo, lalu CCTV lajur.
Melalui sistem Delameta, pendapatan gate pass naik 3-4 kali lipat, karena pembayaran menggunakan sistem nontunai seperti di jalan tol. Setiap hari, rata-rata kendaraan yang masuk Priok 13 ribu unit.
Bayu nenyebutkan, perusahaan telah meneken kontrak pengadaan sistem pembayaran di tiga pelabuhan lainnya, yakni Panjang, Banten, dan Sunda Kelapa. Jumlah ini akan terus bertambah seiring rencana Pelindo II menerapkan sistem pembayaran terpusat di 12 pelabuhan yang dikelola. Delameta akan menjadi integrator sistem pembayaran di 12 pelabuhan itu.
Bayu menambahkan, Delameta juga membidik pasar ekspor potensial ke kawasan regional, seperti Malaysia, Thailand, Myanmar, dan Timor Leste. Produk yang bakal diekspor antara lain palang otomatis dengan merek dagang Palmat.
Kepala BPJT Danang Parikesit menyebutkan, bisnis jalan tol tahan (resilience) dari dampak pandemi Covid-19. Buktinya proses pemulihan sektor ini sangat cepat. Selain itu, BUMN tol, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) masih mencetak untung semester I tahun ini dan diprediksi berlanjut hingga akhir tahun.
Menurutnya, ada dua hal yang menjadi perhatian BPJT selama pandemi Covid-19. Pertama, keyakinan konsumen bahwa jalan tol masih aman digunakan. Apalagi, sejumlah rest area sudah menerapkan protokol kesehatan ketat. Kedua, dari sisi keyakinan investor, bahwa sektor jalan tol bisa pulih dengan cepat.
Danang menyambut baik kehadiran perusahaan teknologi seperti Delameta yang memberikan solusi pembayaran transportasi. Ini sejalan dengan tahap empat era pengembangan jalan tol, yakni transformasi inovasi dan modernisasi (TIM).
“Kami sangat welcome dengan perusahaan yang memberika solusi teknologi. Semakin banyak dan kompetitif, semakin baik,” ujarnya.
Editor: Dani M Dahwilani