TEXAS, iNews.id - Pemegang saham Tesla menyetujui paket gaji yang akan diterima CEO Elon Musk sebesar 56 miliar dolar AS atau setara Rp911,90 triliun. Persetujuan tersebut menggarisbawahi banyaknya dukungan yang diperoleh Musk dari basis investor ritel, yang banyak di antaranya penggemar vokal miliarder tersebut.
Mengutip Reuters, meski proposal terkait paket gaji disetujui, terdapat penolakan dari sejumlah investor institusional besar dan perusahaan proksi.
Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,21 Persen di 2025, Tiga Sektor Jadi Penopang
Dalam pertemuan tahunan di Austin, Texas, Tesla menyampaikan bahwa pemegang saham juga menyetujui proposal untuk memindahkan kantor resmi perusahaan ke Texas dari Delaware. Forum tersebut juga menyetujui proposal lain termasuk pemilihan kembali dua anggota dewan, yakni Kimbal Musk, saudara laki-laki Musk, dan James Murdoch, putra dari raja media Rupert Murdoch.
Para pemegang saham memang meningkatkan tingkat kendali investor dengan mengesahkan proposal yang mendukung pemendekan masa jabatan dewan menjadi satu tahun dan menurunkan persyaratan pemungutan suara untuk proposal menjadi mayoritas sederhana, meski ada penolakan dari dewan terhadap keduanya.
Apple Kolaborasi dengan OpenAI, Elon Musk Soroti Masalah Keamanan Data
“Jika saya tidak optimistis, pabrik ini tidak akan ada, dan pabrik ini tidak akan ada, tetapi pada akhirnya saya berhasil. Itu yang penting," ucap Musk dalam pertemuan tersebut dikutip, Jumat (14/6/2024).
Meski pemegang saham telah menyetujui paket gaji, Musk masih harus berjuang di jalur hukum untuk meyakinkan hakim Delaware yang sebelumnya membatalkan paket tersebut pada bulan Januari.
Dia juga kemungkinan akan menghadapi tuntutan hukum baru atas persetujuan paket tersebut, yang akan menjadi terbesar dalam sejarah perusahaan Amerika Serikat.
Persetujuan pemegang saham atas kompensasi tersebut dinilai sebagai dukungan terhadap masa jabatan Musk dan pengakuan bahwa investor tidak ingin mengambil risiko terkait masa depan perusahaan.
Pada bulan Januari, Musk mengancam akan membuat produk AI dan robotika di luar Tesla jika dia gagal mendapatkan kontrol suara yang cukup. Dia mengalihkan fokus perusahaannya ke robotaxis, yang mengesampingkan mobil listrik yang lebih murah di pasar massal, sehingga menimbulkan kekhawatiran beberapa investor yang khawatir teknologi otonom akan sulit untuk disempurnakan
Editor: Aditya Pratama