Mimpi Lukman Lestarikan Budaya Betawi lewat Ondel-Ondel, Kian Nyata Berkat Dukungan BRI
JAKARTA, iNews.id - Kecintaan Lukman Hakim terhadap budaya Betawi tak diwujudkan lewat panggung pertunjukan semata. Pria asal Lebak Bulus, Jakarta Selatan itu memilih merawat ikon budaya tersebut melalui miniatur ondel-ondel berbahan botol plastik bekas yang diproduksinya sejak 2013.
Kerajinan tersebut dijalankan bersama sang istri. Bukan semata untuk mencari penghasilan, miniatur ondel-ondel itu juga menjadi cara yang dia pilih untuk menjaga agar budaya Betawi tetap dikenal lintas generasi.

"Karena orang Betawi itu semakin lama semakin dilupain, makanya kita temanya di ondel-ondel," kata Lukman saat ditemui iNews.id pada Kamis (25/6/2026).
Bersama warga, dia lebih dulu membuat ondel-ondel berukuran sekitar dua meter dari bahan-bahan sederhana dan limbah yang ada di sekitar lingkungannya. Ondel-ondel itu dipajang bersama dekorasi rumah Betawi pada berbagai kegiatan.
"Jadi kita mengangkat lagi budaya kita. Dari situ beberapa RT pada ngelihat, 'Bagus nih.' Jadi tertarik," ujarnya.
Semangat itu terus berkembang hingga pada 2013 Lukman menciptakan miniatur ondel-ondel berbahan botol plastik bekas. Ide tersebut lahir setelah mendapat tantangan dari lurah untuk membuat ondel-ondel berukuran kecil.
"Saya enggak mau niru orang. Saya mau menciptakan sendiri. Akhirnya saya pilih dari botol plastik bekas," katanya.
Dia pun bereksperimen menggunakan berbagai jenis botol sebelum menemukan bahan yang paling sesuai.

"Beberapa botol dicobain dulu. Akhirnya paling cocok botol ini, karena bahannya keras, permukaannya halus," ujarnya.
Tak hanya botol plastik, Lukman juga memanfaatkan limbah kain dari konveksi sebagai bahan pakaian miniatur ondel-ondel.
"Kain kita ambil dari konveksi. Kadang kita pesen limbahnya kalau bisa jangan dibuang, buat saya," tuturnya.
Keinginan memperkenalkan budaya Betawi tak berhenti lewat produksi kerajinan. Lukman juga aktif mengajarkan cara membuat miniatur ondel-ondel kepada berbagai kalangan, mulai dari anak-anak PAUD hingga orang dewasa.
"Saya ngajarin cara bikin ondel-ondel dari daur ulang ini dari anak PAUD, anak playgroup, anak TK, SD, SMP, SMA sampai gurunya aja pada mau belajar," katanya.
Bahkan, kegiatan tersebut membawanya hingga ke Pondok Modern Darussalam Gontor di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Berawal dari keponakannya yang belajar di pesantren itu membawa beberapa pasang miniatur ondel-ondel, Lukman akhirnya diundang untuk mengajar para santri.

"Senang orang sana. Akhirnya saya ke Gontor sana. Saya ngajar di sana santri, 200 orang di aula," ujarnya.
Dalam pelatihan itu, Lukman tidak membatasi kreativitas para peserta. Dia membebaskan mereka mengembangkan bentuk ondel-ondel sesuai imajinasi masing-masing.
"Saya kasih kebebasan juga. Jadi bentuknya bukannya ondel-ondel aja. Silakan kalau mau punya imajinasi yang lain, misalnya ondel-ondel wisuda, ondel-ondel adat Jawa, ondel-ondel pakaian Muslim," katanya.
Selain mengajar kerajinan, Lukman juga mendirikan Yayasan Karya Seni Betawi yang mewadahi berbagai sanggar seni. Melalui yayasan tersebut, dia mengembangkan beragam kesenian Betawi mulai dari palang pintu, lenong, gambang kromong, hingga pembuatan ondel-ondel.
"Jadi rezeki kan Allah yang ngatur, yang penting kita punya misi yang sama untuk mengangkat budaya, memperkenalkan budaya," ujarnya.
Usaha miniatur ondel-ondel yang kini dikenal luas ternyata lahir dari upaya Lukman mencari tambahan penghasilan. Saat masih bekerja sebagai petugas keamanan, penghasilannya dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan keluarga yang terus bertambah, terutama setelah anak keduanya lahir pada 2004.
"Kalau kita ngandelin gaji ya, kayaknya enggak cukup. Buat beli susu aja susah. Akhirnya kita berpikir, kita harus cari tambahan lagi," ujar Lukman.
Keadaan itu mendorongnya menghidupkan kembali bakat seni yang sempat lama ditinggalkan. Berawal dari membuat dekorasi untuk kegiatan warga dan perayaan 17 Agustus, kreativitasnya terus berkembang hingga berhasil menciptakan miniatur ondel-ondel berbahan botol plastik bekas pada 2013.
Saat ini, usaha tersebut dikelola bersama sang istri. Hasil produksinya dipasarkan dengan sistem titip jual (konsinyasi) di sejumlah toko mainan di kawasan Pondok Labu, Pondok Petir, hingga Kebayoran Lama.
"Variatif (jumlah ondel-ondel yang dititipkan di toko). Ada yang sepuluh, ada yang lima puluh, ada yang tiga puluh. Tinggal tergantung penjualannya aja," katanya.
Dia mengatakan, jumlah pesanan sempat melonjak saat momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Jakarta. Lukman mengaku mampu menghabiskan ratusan botol plastik bekas untuk diolah menjadi miniatur ondel-ondel.
"Alhamdulillah. Saya produksi dari kemarin hampir 500 botol. Jadi 250 pasang. Habis," ujarnya.
Seiring meningkatnya permintaan, Lukman memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI untuk memperbesar kapasitas usahanya. Pinjaman pertama dia peroleh pada 2019 sebesar Rp20 juta yang digunakan sebagai tambahan modal membeli bahan baku dan perlengkapan produksi.
"Saya minjem Rp20 juta buat modal beli bahan, styrofoam (gabus sintetis), cat, alat-alat kerja," katanya.
Ketika pandemi Covid-19 melanda, Lukman kembali mengakses KUR BRI senilai Rp50 juta. Selain dipakai memperkuat modal usaha, dana tersebut dimanfaatkan untuk memperbaiki rumah agar lebih aman dan nyaman sebagai tempat produksi.
"Yang Rp50 juta saya renovasi. Lantai dua dulu masih papan, saya ngeri kerja enggak tenang. Akhirnya saya cor," ujarnya.
Menurut Lukman, hubungan dengan BRI tidak berhenti setelah pencairan pinjaman. Dia mengaku masih rutin mendapat pendampingan dan kesempatan mengikuti bazar maupun kegiatan promosi bertema budaya Betawi.
"Iya, kontrol. Kadang dia ada acara juga kita dipanggil, isi acara bazar," katanya.
Komitmen PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dalam memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus diwujudkan melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Hingga Mei 2026, realisasi KUR BRI telah mencapai Rp84,36 triliun atau sekitar 46,87 persen dari target penyaluran tahun ini sebesar Rp180 triliun.
Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menjelaskan, mayoritas pembiayaan tersebut disalurkan kepada pelaku usaha di sektor produktif yang menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi masyarakat. Dari total penyaluran KUR, sebanyak 67,18 persen mengalir ke sektor-sektor yang menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian.
Menurut Akhmad, KUR tidak hanya berfungsi sebagai sumber pembiayaan bagi UMKM, tetapi juga menjadi bagian dari strategi memperkuat ekonomi kerakyatan. Penyalurannya diarahkan untuk mendukung agenda pembangunan nasional, mulai dari peningkatan ketahanan pangan hingga pengembangan kewirausahaan.
"KUR bukan sekadar instrumen pembiayaan, tetapi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional dari tingkat akar rumput," ujar Akhmad.
Dia menambahkan, akses pembiayaan yang semakin mudah dan tepat sasaran diharapkan mampu meningkatkan kapasitas usaha, memperluas kesempatan kerja, sekaligus memperkuat daya saing UMKM di berbagai daerah.
"Melalui akses pembiayaan yang semakin inklusif dan tepat sasaran, UMKM dan pelaku usaha dapat tumbuh lebih kuat, menciptakan lapangan kerja, serta memberikan kontribusi yang berkelanjutan bagi perekonomian nasional," katanya.
Sejak program KUR dijalankan pada 2015 hingga Mei 2026, BRI telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp1.520 triliun kepada lebih dari 48,1 juta pelaku usaha di seluruh Indonesia.
Realisasi tersebut mencerminkan konsistensi BRI dalam memperluas inklusi keuangan sekaligus memperkuat peran UMKM sebagai penggerak utama ekonomi nasional. Melalui dukungan pembiayaan yang berkelanjutan, BRI terus mendorong pelaku usaha agar semakin berkembang, naik kelas, dan mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Editor: Rizky Agustian