Kuasai 16 Bahasa, Pedagang Asongan Ini Bisa Lunasi Utang Keluarga hingga Raih Beasiswa
JAKARTA, iNews.id - Lahir dari keluarga miskin, membuat Thuch Salik menghabiskan masa kecilnya untuk membantu orang tua daripada mengenyam pendidikan.
Thuch Salik, awalnya dikenal sebagai pedagang asongan yang menawarkan beragam souvenir kepada turis yang mengunjungi candi Angkor Wat dan Ta Phrom, Kamboja.
Nasibnya berubah saat bertemu seorang turis asal Malaysia yang kemudian mengunggah video ketika Saliik menawarkan souvenir yang dijualnya dalam berbagai bahasa.
Video yang diunggah sang turis di akun Facebook pada 9 November 2018, membuat Salik yang kala itu berusia 14 tahun menjadi bocah viral yang menarik perhatian netizen bahkan para dermawan.
Kisah Pemilik Tisu Paseo yang Awalnya Berjualan Biskuit Keliling
Dampaknya, hidup Salik pun berubah. Dr Chen Junwei, CEO Hailiang Educational Institute yang bergengsi di Zhejiang, China, menawarkan beasiswa kepada Salik.
Awalnya, Salik mendapat tawaran beasiswa dari Dr Chen pada Maret 2019, tetapi orang tua Salik ragu untuk melepaskannya merantau ke China. Pasalnya, mereka memiliki utang sekitar 70.000 dolar AS dan membutuhkan Salik untuk membantu mencari nafkah sebagai pedagang asongan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari dan melunasi utang.
Kisah Sukses Pendiri Dua Kelinci, Dirikan Pabrik untuk Membantu Petani Kacang Tanah
Dr Chen kemudian menawarkan untuk melunasi utang keluarga Salik dan memberikan beasiswa untuk pendidikannya. Orang tua Salik akhirnya menerima tawaran itu.
Setelah melalui berbagai proses termasuk perizinan untuk pindah ke China, Salik resmi terdaftar di Hailiang Educational Institute pada September 2019.
Dia harus mengikuti kuliah dengan jadwal yang padat untuk mengejar ketinggalan dengan teman-teman sekelasnya. Di institut itu, Salik mempelajari mata pelajaran seperti bahasa Mandarin, matematika, melukis, dan psikologi.
Pada Januari 2020, saat kembali ke Kamboja untuk libur sekolah, pandemi Covid-19 melanda dunia. Salik kemudian mengikuti kelas melalui pembelajaran jarak jauh dari Phnom Penh.
Dia kemudian bergabung dengan perusahaan Kamboja, FUN Entertainment, di mana dia dipersiapkan untuk menjadi bintang media sosial yang membagikan pengalamannya mempelajari berbagai bahasa asing.
Jika pada 2018 ketika pertama viral Salik baru menguasai 12 bahasa, kini Salik telah menguasai 16 bahasa. Semuanya dipelajari secara otodidak dari para turis yang ditemuinya saat menjadi pedagang asongan di candi Angkor Wat dan Ta Phrom, Kamboja, maupun melalui pendidikannya di China.
Dalam salah satu tayangan video, Salik mengatakan pariwisata tak hanya mendorong perekonomian, tetapi menjadi jembatan untuk menambah ilmu pengetahuan mengenai bahasa dan budaya dari berbagai negara. Siapa sangka, dari kebisaannya menguasai 16 bahasa, Salik mampu melunasi utang keluarganya, dan mengubah nasibnya dengan meraih beasiswa.
Editor: Jeanny Aipassa