Ketika Sampah Menjelma Ondel-Ondel, Kisah Lukman Bangkit dari Masa Sulit Didukung BRI
JAKARTA, iNews.id - Tangan Lukman Hakim bergerak lincah memotong dan merangkai botol plastik bekas yang menumpuk di sudut rumahnya kawasan Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan. Benda yang bagi sebagian orang hanya sampah itu perlahan berubah menjadi sepasang miniatur ondel-ondel berwarna mencolok.
Tak disangka, hasil kreasi itu menjelma jadi tambahan sumber penghasilan bagi Lukman. Petugas keamanan di Kawasan Niaga Terpadu Sudirman atau Sudirman Central Business District (SCBD), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan itu perlahan mampu mencukupi kebutuhan keluarganya.

Ratusan botol plastik telah diolah menjadi kerajinan tangan yang dipasarkan ke berbagai toko mainan di Jakarta. Bahkan saat momentum Hari Ulang Tahun (HUT) Jakarta, permintaan meningkat tajam hingga membuat pria berusia 56 tahun itu harus memproduksi ratusan pasang ondel-ondel mini.
Usaha yang dirintis sejak 2013 itu berawal dari kebutuhan menambah penghasilan keluarga. Lukman semula berusaha mencari tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga setelah anak keduanya lahir pada 2004.
"Di 2004 itu ya, kalau kita ngandelin gaji ya, kayaknya enggak cukup punya anak dua. Buat beli susu aja susah. Akhirnya kita berpikir, waduh, kita harus cari tambahan lagi," kata Lukman saat ditemui iNews.id di rumahnya, Kamis (25/6/2026).
Berbekal minat seni yang dimilikinya sejak kecil, Lukman mulai aktif membuat berbagai dekorasi untuk kegiatan warga. Bersama pemuda sekitar, dia juga berupaya mengangkat kembali budaya Betawi melalui berbagai kreasi.
Dari aktivitas itulah muncul ide membuat miniatur ondel-ondel berbahan botol plastik bekas pada 2013.
"Saya ada dapat tantangan dari lurah. Lurahnya ibu-ibu, 'Mana lu bikin yang kecil? Saya tahu kalau kamu yang gede saya tahu kamu bisa. Coba bikin yang kecil'," ujarnya.

Alih-alih meniru produk yang sudah ada, Lukman memilih menciptakan konsep sendiri menggunakan botol plastik bekas. Berbagai jenis botol dicoba sebelum akhirnya menemukan bentuk yang paling sesuai.
"Awalnya kita eksperimen. Botol apa aja. Beberapa botol dicobain dulu. Dicoba semua. Akhirnya paling cocok botol ini, karena bahannya keras, permukaannya halus," katanya.
Lukman menuturkan bahan baku diperoleh dari tetangga, teman, hingga kerabat yang mengumpulkan botol bekas untuknya. Dia membeli botol bekas yang telah dikumpulkan seharga Rp5.000 per kilogram.
Bahkan, limbah kain dari konveksi di dekat rumahnya juga dimanfaatkan sebagai bahan pakaian miniatur ondel-ondel. "Kadang kita pesan limbahnya kalau bisa jangan dibuang, buat saya," ujarnya.
Saat ini, Lukman menjalankan usaha tersebut bersama istrinya. Produk miniatur ondel-ondel dipasarkan melalui sistem konsinyasi ke sejumlah toko mainan.
Menurut dia, miniatur ondel-ondel buatannya sudah dipasarkan di sejumlah toko kawasan seperti Pondok Labu dan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, hingga Pondok Petir, Depok. Sepasang ondel-ondel dijual seharga Rp25.000 kepada reseller, dan Rp35.000 jika dijual secara langsung ke pembeli.

"Variatif. Ada yang 10, ada yang 50, ada yang 30. Tinggal tergantung penjualannya aja. Ramai atau enggaknya," ujar Lukman saat menjelaskan jumlah miniatur ondel-ondel yang dititipkan di setiap toko.
Lukman mengungkapkan permintaan produk meningkat menjelang perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Jakarta. Pada momen tersebut, produksi melonjak 250 unit.
"Alhamdulillah. Saya produksi dari kemarin tuh hampir 500 botol. Jadi 250 pasang. Habis. Ini baru mulai lagi nih," katanya.
Dalam mengembangkan usahanya, Lukman mendapat dukungan permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Dia mengaku pertama kali memperoleh pinjaman KUR pada 2019 sebesar Rp20 juta.
Dana tersebut digunakan untuk membeli bahan baku dan perlengkapan produksi.
"Saya pinjam sebelum Covid-19, 2019 kalau enggak salah. 2019 saya minjem Rp20 juta buat modal beli bahan, styrofoam (gabus sintetis), cat, alat-alat kerja," ujarnya.
Selain untuk kebutuhan usaha, sebagian dana juga digunakan membantu biaya anaknya yang baru lulus sekolah.
Saat pandemi Covid-19, Lukman kembali mengakses KUR BRI sebesar Rp50 juta. Dana itu digunakan untuk merenovasi rumahnya yang sekaligus menjadi lokasi pembuatan miniatur ondel-ondel.

Sebagian dana lainnya dipakai untuk menambah stok bahan baku dan kebutuhan pengemasan produk.
"Sisanya belanja aja kebutuhan stok, cetak merek hampir 10.000 lembar, stok plastik kemasan," katanya.
Tak hanya memperoleh akses permodalan, Lukman mengatakan pihak BRI juga kerap melakukan pendampingan dan mengajaknya mengikuti berbagai kegiatan promosi.
"Iya, kontrol, kadang dia ada acara juga kita dipanggil, isi acara bazar," ujarnya.
Menurut Lukman, keterlibatan dalam berbagai kegiatan tersebut membantu memperluas jangkauan pemasaran. Dia juga memandang keterlibatannya dalam kegiatan tersebut sekaligus sebagai ajang memperkenalkan budaya Betawi kepada masyarakat.
Ke depan, Lukman berharap usahanya dapat berkembang lebih besar dan menjangkau pasar ritel modern. Dia bermimpi untuk membuka lapangan kerja bagi masyarakat yang tinggal di sekitar rumahnya.
"Rencananya ya buat lebih besar lagi. Jadi kita mau terobosan masukin ke Indomaret, Alfamart. Misal satu Alfamart atau Indomaret 10 (miniatur ondel-ondel) aja, kali berapa Indomaret, kali berapa Alfamart? Jutaan. Kan kita bisa buka lapangan kerja," katanya.
Manfaat usaha yang dijalankan Lukman juga dirasakan warga sekitar. Salah satu tetangganya, Marni, mengaku sudah lama mengenal usaha miniatur ondel-ondel yang dibuat dari botol bekas tersebut.
Dia mengatakan aktivitas produksi kerajinan itu sudah menjadi pemandangan sehari-hari di lingkungan tempat tinggalnya. Marni kerap melihat Lukman bersama istrinya membuat miniatur ondel-ondel di rumah.
"Memang dari dulu jualan ondel-ondel. Saya sering lihat bikin di rumah," kata Marni.
Dia mengatakan produk buatan Lukman cukup dikenal karena dipasarkan ke berbagai tempat dan sering mendapat pesanan saat ada kegiatan bertema budaya Betawi.
"Kalau ada pesanan atau acara biasanya ramai. Banyak yang datang juga ke sini," ujarnya.
Marni menilai usaha tersebut menjadi kebanggaan warga sekitar karena tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga ikut menjaga budaya Betawi agar tetap dikenal masyarakat.
"Bagus sih, jadi orang tahu ondel-ondel. Apalagi sekarang kan budaya Betawi harus terus dikenalkan," katanya.
Keberadaan usaha tersebut, kata Marni, juga membuat lingkungan sekitar lebih hidup. Warga, terutama anak-anak, kerap datang untuk melihat proses pembuatan miniatur ondel-ondel dari dekat.
"Banyak juga yang lihat-lihat, terutama anak-anak. Mereka jadi tahu kalau botol bekas bisa dijadikan kerajinan," ujar Marni.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus memperkuat perannya dalam mendukung pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui program KUR. Selama periode Januari hingga Mei 2026, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp84,36 triliun atau sekitar 46,87 persen dari total kuota penyaluran tahun ini yang mencapai Rp180 triliun.
Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan sebagian besar pembiayaan tersebut mengalir ke sektor-sektor produktif yang menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Dari total KUR yang telah disalurkan, sekitar 67,18 persen diberikan kepada pelaku usaha di sektor produktif.
Menurut dia, KUR menjadi salah satu instrumen penting untuk memperluas akses permodalan bagi UMKM sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah. Penyaluran kredit tersebut juga diarahkan untuk mendukung program prioritas pemerintah, termasuk penguatan ketahanan pangan dan pemberdayaan wirausaha.
"KUR bukan sekadar instrumen pembiayaan, tetapi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional dari tingkat akar rumput," ujar Akhmad.
Dia menjelaskan, dukungan pembiayaan yang tepat sasaran diharapkan dapat membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat daya saing, serta membuka peluang kerja baru di daerah.
"Melalui akses pembiayaan yang semakin inklusif dan tepat sasaran, UMKM dan pelaku usaha dapat tumbuh lebih kuat, menciptakan lapangan kerja, serta memberikan kontribusi yang berkelanjutan bagi perekonomian nasional," katanya.
Secara akumulatif sejak 2015 hingga Mei 2026, BRI telah menyalurkan KUR senilai Rp1.520 triliun kepada lebih dari 48,1 juta debitur di seluruh Indonesia.
Capaian tersebut menunjukkan komitmen berkelanjutan BRI dalam memperluas inklusi keuangan sekaligus memperkuat posisi UMKM sebagai motor penggerak ekonomi nasional. Melalui penyaluran KUR, BRI terus mendorong tumbuhnya usaha-usaha rakyat yang berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi di berbagai wilayah.
Editor: Rizky Agustian