JP Morgan Ambil Alih Aset First Republic Bank
NEW YORK, iNews.id - JP Morgan Chase & Co bakal mengambil alih bank Amerika Serikat (AS) First Republic Bank yang tengah bermasalah dalam kesepakatan yang ditengahi oleh regulator. Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) mengkonfirmasi bahwa bank tersebut telah runtuh pada hari ini, Senin (1/5/2023).
Mengutip BBC, raksasa perbankan investasi JP Morgan akan mengambil seluruh simpanan dan sebagian besar aset First Republic Bank.
First Republic merupakan bank AS ketiga yang bangkrut dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan krisis perbankan yang lebih luas. First Republic menyusul keruntuhan Silicon Valley Bank dan Signature Bank.
Saham First Republic turun lebih dari 75 persen minggu lalu setelah menyampaikan bahwa nasabah telah menarik deposito sebesar 100 miliar dolar AS pada bulan Maret.
FDIC Putuskan First Republik Bank Diawasi Kurator, Bakal Menyusul Silicon Valley Bank?
Mengutip AFP, para pejabat AS diketahui telah menghubungi enam bank dalam upaya mendapatkan paket penyelamatan untuk First Republic.
CEO JP Morgan Chase, Jamie Dimon mengatakan, pemerintah mengundang mereka dan perusahaan lainnya untuk menyelamatkan First Republic.
“Kekuatan finansial, kapabilitas, dan model bisnis memungkinkan kami mengembangkan tawaran untuk mengeksekusi transaksi dengan cara meminimalkan biaya dana penjamin simpanan.” ucap Dimon dikutip, Senin (1/5/2023).
Nantinya, 84 kantor bank milik First Republic di delapan negara bagian akan dibuka kembali sebagai cabang JPMorgan Chase Bank setelah regulator mengambil kendali dan segera dijual ke lembaga Wall Street.
Didirikan pada tahun 1985, First Republic merupakan pemberi pinjaman menengah di AS, seperti Silicon Valley Bank. Ketika Silicon Valley Bank dan Signature Bank runtuh, FDIC menyampaikan akan menjamin semua simpanan untuk mencegah serbuan orang yang mencoba mengeluarkan uang mereka.
Di Eropa, raksasa perbankan Credit Suisse dibeli oleh saingannya, UBS pada bulan Maret. Kesepakatan tersebut diatur oleh otoritas Swiss.
Ketika bank sentral di seluruh dunia menaikkan suku bunga secara agresif untuk meredam laju inflasi, beberapa pemberi pinjaman berada di bawah tekanan. Peningkatan suku bunga telah merusak nilai portofolio besar obligasi yang dibeli oleh bank ketika suku bunga lebih rendah.
Editor: Aditya Pratama