Investasi Bakauheni Harbour City Rp1 Triliun, Bakal Ada Krakatau Park hingga Pusat UMKM
JAKARTA, iNews.id - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkapkan, nilai investasi Proyek Strategis Nasional Bakauheni Harbour City di Lampung Selatan sebesar Rp1 triliun.
"Untuk keseluruhan satu kawasan Bakauheuni Harbour City nilai investasinya bisa mencapai Rp1 triliun," katanya di Lampung Selatan, dikutip dari Antara, Minggu (17/10/2021).
Dia menjelaskan, nilai investasi tersebut direncanakan untuk membangun sejumlah lokasi seperti Krakatau Park, Masjid Bakauheni sekaligus mercusuar, Museum Menara Siger. Selain itu, infrastruktur air bersih, Creative Hub sebagai sarana membuka lapangan pekerjaan dalam sektor industri dan ekonomi kreatif, serta objek wisata lainnya.
"Untuk tahap awal kita mencoba melakukan investasi awal sebesar Rp45 miliar, di mana nanti ada masjid berkapasitas 2.000 orang, yang juga bisa menjadi mercusuar," ujarnya.
Jokowi Minta Erick Thohir Carikan Partner Pelindo yang Punya Jaringan Luas
Erick menuturkan, dalam dua tahun ini akan fokus pada pembangunan pusat UMKM, Creative Hub, Krakatau Park, pembangunan infrastruktur dasar, dan air bersih.
"Kalau tahun 2023 rencananya untuk nilai awal investasi infrastruktur dasar mencapai Rp300 miliar, Krakatau Park akan dibangun pada pertengahan tahun depan sekitar Juli atau Agustus," ucap Erick.
Erick Thohir: Jika Kita Tidak Apresiasi Produk Lokal seperti Korea, Market Enggak Tumbuh
Dia menuturkan, Lampung memiliki potensi yang cukup banyak dan dengan adanya jalan tol dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke daerah ini.
"Kita melihat potensi Bakauheni Harbour City dan mampu dikembangkan sebagai tempat tujuan wisata karena sebelum Covid-19 kondisi kepariwisataan sebanyak 78 persen adalah wisatawan lokal dan 20 persen lainnya wisatawan asing," katanya.
Dia mengatakan, ke depan Bakauheni Harbour City harus menyerap tenaga kerja, bersinergi dengan pelaku UMKM dari masyarakat lokal.
"Sehingga dapat menjadi lokomotif ekonomi warga Lampung dan Sumatera," ujarnya.
Editor: Jujuk Ernawati