Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Kerja Pemerintah Pascabencana Berbuah Hasil: Inflasi di Aceh, Sumut dan Sumbar Berbalik Deflasi
Advertisement . Scroll to see content

Inflasi Cetak Rekor, Bank Sentral Eropa Kembali Naikkan Suku Bunga 75 Bps

Jumat, 28 Oktober 2022 - 06:37:00 WIB
Inflasi Cetak Rekor, Bank Sentral Eropa Kembali Naikkan Suku Bunga 75 Bps
Inflasi cetak rekor, Bank Sentral Eropa kembali naikkan suku bunga 75 bps
Advertisement . Scroll to see content

FRANKFURT, iNews.id - Bank Sentral Eropa (European Central Bank (ECB) menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin (bps) pada Kamis (27/10/2022) waktu setempat. ECB juga menyatakan akan menaikkan suku bunga lebih lanjut di masa depan dan memperkirakan akan terjadi perlambatan ekonomi berkepanjangan di kawasan Eropa. 

Kebijakan tersebut akan membuat suku bunga acuan untuk 19 negara yang menggunakan euro menjadi 1,5 persen, tingkat tertinggi sejak 2009. ECB telah menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali berturut-turut dalam upaya untuk mengendalikan inflasi, bahkan ketika resesi membayangi. 

"Inflasi tetap terlalu tinggi dan akan tetap di atas target (2 persen) untuk waktu yang lama," kata ECB dalam sebuah pernyataan, dikutip dari CNN Business, Jumat (28/10/2022). 

"Dalam beberapa bulan terakhir, melonjaknya harga energi dan pangan, macetnya pasokan dan pemulihan permintaan pascapandemi telah menyebabkan meluasnya tekanan harga dan peningkatan inflasi," tambahnya.

Tingkat inflasi tahunan zona euro mencapai rekor 9,9 persen pada September, naik dari bulan sebelumnya sebesar 9,1 persen. Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan, kenaikan inflasi yang tidak terduga dan luar biasa telah mengejutkan para pembuat kebijakan. Dia mengatakan bahwa kenaikan harga energi ritel dapat mendorong inflasi lebih tinggi dalam jangka menengah.

"Risiko terhadap prospek inflasi terutama pada sisi atas," ujarnya.

Di samping kenaikan harga, kawasan tersebut sedang berjuang melawan perlambatan ekonomi yang memburuk. Itu membuat pekerjaan bank sentral semakin sulit karena kenaikan suku bunga cenderung melemahkan permintaan lantaran membuat pinjaman menjadi lebih mahal.

Krisis energi, yang dipicu oleh invasi Rusia ke Ukraina telah membebani sektor-sektor seperti manufaktur. Pada saat yang sama, krisis biaya hidup yang lebih luas telah menekan pengeluaran untuk barang dan jasa.

Menurut ukuran aktivitas di sektor manufaktur dan jasa yang diterbitkan pada Senin pekan ini, penurunan ekonomi zona euro semakin dalam pada Oktober. S&P Global’s Purchasing Managers’ Index menunjukkan, Jerman mengalami kontraksi ekonomi paling tajam, sementara pertumbuhan di Prancis terhenti.

Lagarde mengakui risiko terhadap prospek pertumbuhan ekonomi jelas pada sisi negatifnya. 

"Aktivitas ekonomi kemungkinan akan melambat secara signifikan pada kuartal III tahun ini dan kami memperkirakan pelemahan lebih lanjut di sisa tahun ini dan awal tahun depan," ucapnya.

Lagarde menuturkan, bank-bank Eropa memperketat standar kredit pada pinjaman karena mereka menjadi lebih peduli tentang risiko yang dihadapi oleh pelanggannya dengan kondisi saat ini. Dan meskipun prospek ekonomi suram, Lagarde mengatakan, ECB masih memiliki 'ground to cover' dan akan menaikkan suku bunga lebih lanjut. 

"Tujuan akhir yang ingin kami capai adalah tingkat yang akan memberikan target inflasi 2 persen dalam jangka menengah. Kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Tugas kami adalah menjaga stabilitas harga," tuturnya.

Menurut Kepala Ekonom di ING Germany Carsten Brzeski, ECB telah memulai siklus pendakian tertajam dan paling agresif yang pernah ada, yang menunjukkan perubahan paradigma di bank sentral.

"Pada saat resesi yang membayangi dan ketidakpastian yang tinggi, normalisasi kebijakan moneter adalah satu hal tetapi pindah ke wilayah yang membatasi adalah hal lain. Dengan kenaikan suku bunga saat ini, ECB telah mendekati titik di mana normalisasi bisa menjadi terbatas,” tulis dia dalam risetnya.

Editor: Jujuk Ernawati

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut