Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Harga BBM Pertamina 7 Februari 2026 di Akhir Pekan, Ada yang Turun?
Advertisement . Scroll to see content
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – PT Pertamina (Persero) menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax dari Rp8.900 per liter menjadi Rp9.500 per liter.

Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal (Purn) Moeldoko mengatakan, harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax sepenuhnya diatur oleh pasar sehingga pergerakannya cukup fluktuatif.

“Harga (Pertamax) itu mengikuti, fluktuatif, menghitungnya adalah mengikuti harga market dunia, global,” kata dia di Jakarta, Senin (2/7/2018).

Kendati demikian, Moeldoko mendorong agar Pertamina melakukan sosialisasi kepada masyarakat sebelum harga BBM nonsubsidi dinaikkan. Masyarakat perlu diberikan penjelasan mengapa harga BBM nonsubsidi bisa naik dan bisa turun.

“Saya berharap dengan apa yang disampaikan itu masyarakat mulai memahami bahwa terhadap produk-produk BBM yang nonsubsidi dan nonpenugasan itu kondisinya seperti itu sehingga nanti kalau beli Pertamax memang sudah menyiapkan dirinya harus mengikuti pasar dunia,” katanya.

Sementara Wakil Ketua Komisi VI DPR, Inas Nasrullah menilai, Pertamina tidak perlu melakukan sosialisasi dari jauh-jauh hari sebelum menaikkan harga BBM nonsubsidi. Menurut dia, tidak ada aturan bagi Pertamina untuk melakukan hal tersebut karena Pertamax merupakan BBM komersial yang tidak diatur oleh pemerintah.

Politikus Partai Hanura itu mengatakan, keputusan BUMN migas tersebut wajar karena minyak mentah dunia terus naik. Belum lagi kurs rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS karena Pertamina membeli minyak dengan dolar AS.

“Yang dikontrol oleh negara hanya Premium, baik itu BBM penugasan maupun BBM Jamali (Jawa, Bali, Madura), semuanya dikontrol oleh negara melalui Pertamina, tapi di luar itu boleh dong memiliki produk di luar Premium,” ucapnya.

Selain itu, Inas juga mendorong kepada konsumen untuk tidak beralih menggunakan Premium meski harga Pertamax mahal. Menurutnya, kualitas Premium lebih rendah dibanding Pertamax.

Pengamat energi, Ferdinand Hutahean memprediksi adanya migrasi penggunaan Pertamax ke Pertalite atau Premium akibat naiknya harga BBM beroktan 95 itu. Dia menyebut, hal ini justru akan memberatkan Pertamina karena harga Premium dan Pertalite tetap. “Saya melihat kenaikan Pertamax naik Rp600 itu angka yang cukup tinggi dan signifikan,” katanya.

Editor: Rahmat Fiansyah

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut