Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Ridwan Kamil Tanggapi Proyek Bukit Algoritma di Sukabumi, Ini Katanya
Advertisement . Scroll to see content

Disamakan dengan Silicon Valey, Bukit Algoritma Harus Capai Indikator Ini

Kamis, 15 April 2021 - 12:54:00 WIB
Disamakan dengan Silicon Valey, Bukit Algoritma Harus Capai Indikator Ini
Maket proyek Bukit Algoritma di Kabupaten Sukabumi yang digadang-gadang bakal menjadi Silicon Valley Indonesia. (Foto: Instagram)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Kawasan industri riset dan teknologi 4.0 Bukit Algoritma di Sukabumi, Jawa Barat, harus memiliki sejumlah indikator, jika ingin disamakan dengan Silicon Valley di California, Amerika Serikat (AS).

Menurut Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, indikator utama yang harus dimiliki Bukit Algoritma adalah menarik perusahaan teknologi dunia untuk berinvestasi di kawasan tersebut. 

Menurut dia, Bukit Algoritma sebagai kawasan ekonomi khusus (KEK) juga harus mampu menarik minat investor dengan brand yang kuat di indsutri teknologi. 

"Kalau suatu kawasan khusus tersebut bisa menarik brand-brand yang kuat industri yang lain pasti akan mengikuti itu, yang pertama indikator suksesnya," ujar Esther dalam Webinar, Kamis (15/4/2021). 

Bukit Algoritma akan dikelolah oleh Kiniku Bintang Raya KSO dan PT Bintang Raya Lokalestari. Dari analisanya, Esther mencatat, Bukit Algoritma akan menjadi produktif bila kedua industri melibatkan pihak universitas dan pemerintah. Sinergi ini didasarkan pada kebutuhan dari pengembangan riset berbasis teknologi itu sendiri. 

"Kawasan special economic zone tersebut bisa men-drive up produktivitasnya, jadi di sini, ada dengan salah satunya kolaborasi seperti yang saya lihat di di Penang. Disitu ada 1 kolaborasi antara industri, pemerintah  dan Universitas. Mereka mendirikan satu training center," tutur Esther. 

Terkait hal ini, Ketua Pelaksana Kiniku Bintang Raya KSO, Budiman Sudjatmiko, menyebut Bukit Algoritma adalah kawasan, dimana sains dan teknologi disatukan. Dengan begitu, pihaknya akan melibatkan sejumlah anak mudah Indonesia dan para pensiunan akademisi bergelar profesor untuk terlibat dalam riset.

Indikator berikutnya adalah Silicon Valley Indonesia harus memiliki kontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Poin ini menjadi indikator dasar atas kesuksesan kinerja Bukit Algoritma nantinya. 

"Intinya kalau teknologi kemudian, modal dan tenaga kerja itu bisa mendorong pertumbuhan ekonomi itu adalah in general bisa dikatakan bahwa special economic zone khususnya di kawasan industri yang menggunakan hi-tec ini bisa sukses," kata Budiman. 

Pernyataan senada disampaikan Ekonom Indef, Bhima Yudhistira. Menurutnya, jika KEK ini bisa menarik minat investasi dengan penerapan teknologi 4.0, maka diyakini tidak saja berdampak pada efisiensi, daya saing dan kenaikan output produksi, namun juga terhadap peringkat inovasi Indonesia di level dunia.

"Jika KEK ini beroperasi dan bisa menarik investasi dengan penerapan teknologi 4.0 maka dampaknya bukan hanya pada efisiensi, daya saing dan kenaikan output produksi tapi juga dampak terhadap peringkat inovasi Indonesia di level dunia," ujar Bhima saat dihubungi MNC Portal Indonesia. 

Berdasarkan data Global Innovation Index pada 2020, peringkat Indonesia ada di urutan ke-85 dari 131 negara. Komponen infrastruktur menduduki peringkat 80. Kemudian peringkat innovation linkages atau jaringan inovasi antara lembaga penelitian dan perusahaan ada di urutan ke-71. "Dengan adanya KEK industri 4.0 bisa ditingkatkan lagi," katanya.

Sementara itu, terkait hak paten para peneliti yang nantinya bergabung dalam tim riset Bukit Algoritma, Bhima menilai, hal itu harus dijamin oleh pemerintah. Dimana, langkah itu ditempuh dengan proses pendaftaran hak paten secara cepat.

Editor: Jeanny Aipassa

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut