Didukung BRI, KWT Mawar 8 Sulap Lahan Semak Belukar di Tangerang Jadi Kebun Hidroponik
JAKARTA, iNews.id - Di tengah permukiman padat RW 004 Kelurahan Porisgaga Baru, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang, berdiri deretan tanaman hijau yang tertata rapi dalam instalasi hidroponik. Siapa sangka, kawasan yang kini menjadi kebun Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar 8 itu dulunya hanyalah lahan semak belukar yang tak terurus.
Ketua KWT Mawar 8, Yuliana Sri Prihantini masih mengingat betul bagaimana awal mula dirinya bersama beberapa warga mencoba mengubah lahan fasilitas umum (fasum) tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Dia menyulap lahan tak terpakai itu sebagai lokasi bercocok tanam di lingkungan perkotaan atau urban farming.
“Pada mulanya ini semak belukar ya, tanamannya banyak sekali yang tinggi-tinggi. Benar-benar tidak ada yang ngurus,” kata Yuliana saat ditemui iNews.id, dikutip Kamis (21/5/2026).
Dia bersama warga lain bernama Endang berinisiatif mengelola lahan kosong tersebut. Kegiatan itu dimulai sejak pandemi Covid-19 merebak pada 2020-2021. Meski tak memiliki latar belakang pertanian, Yuliana nekat mencoba belajar menanam secara autodidak.
“Hobinya sebenarnya bukan menanam, saya dulu hobinya mengajar,” ujarnya sambil tertawa.
Yuliana yang sehari-hari mengajar di sekolah kawasan Muara Karang, Jakarta Utara itu mengaku awalnya hanya ingin mengisi waktu dengan kegiatan yang berguna bagi warga sekitar. Dari situ, dia mulai mencoba menanam kangkung, bayam, hingga kundur di lahan kosong tersebut.
Tak disangka, hasil panen saat itu cukup berhasil. Bahkan dia mengaku pernah memanen hingga ratusan kilogram buah kundur.
“Di situ kami sungguh bahagia banget,” ujarnya.
Yuliana mengatakan, KWT Mawar 8 terbentuk tanpa direncanakan pada awal 2025. Dia mengaku terpilih menjadi ketua karena ditunjuk langsung oleh para anggota KWT.
“Tiba-tiba saya tidak ada A, I, U, E, O, langsung dikasih stempel, 'Ibu jadi ketua,' kaget saya,” katanya.
Yuliana menuturkan, perjalanan KWT Mawar 8 tidak selalu mudah. Setelah mulai berkembang, organisasi yang dinaunginya mendapat bantuan fasilitas hidroponik. Namun, bantuan itu justru sempat membuatnya panik karena belum memahami cara pengelolaannya.
“Lalu dikasihlah hidroponik, waduh tambah pusing saya. Gimana caranya,” ujarnya.

Namun perlahan, Yuliana mulai belajar bersama anggota lain. Dia juga dibantu beberapa warga yang memiliki pengalaman menanam. Kini, kebun hidroponik KWT Mawar 8 sudah menanam berbagai jenis sayuran seperti caisim, pokcoy, bayam, seledri, hingga sawi pahit.
Menurut Yuliana, sosok penting di balik perkembangan kebun tersebut adalah Lie Vonny yang kini menjabat sebagai sekretaris KWT Mawar 8. Dia mengatakan Vonny adalah orang yang paling aktif mengurus hidroponik di kebun tersebut setiap hari.
Yuliana bahkan menyebut Vonny sebagai "maskot" KWT Mawar 8 karena hampir seluruh aktivitas kebun dijalani dengan penuh totalitas.
“Sampai saya masih tertidur jam 5 (pagi), dia sudah di kebun untuk panen,” ujarnya.
Perkembangan KWT Mawar 8 ternyata menarik perhatian banyak pihak, termasuk BRI. Bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) itu memberikan dukungan melalui program BRI Peduli Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) serta BRI Bertani di Kota (BRInita).
Tak hanya berupa pendampingan, Yuliana dan anggota KWT Mawar 8 juga menerima berbagai fasilitas penunjang untuk memperbesar kapasitas kebun.
“Ternyata luar biasa sekali, sampai Bank BRI melirik kami,” kata Yuliana.

Menurut dia, bantuan dari BRI sangat membantu perkembangan kebun hidroponik yang sebelumnya serba terbatas. Berbagai fasilitas yang diberikan BRI mulai dari rumah semai, pendopo, hingga perbaikan area kebun mampu menunjang aktivitas kelompoknya.
“(Bantuan untuk) kami dari BRI, tanah merah, lalu ini kita diperbaiki (pendopo) yang tadinya sudah mau roboh, lalu ada penambahan (rumah semai), jadinya tambah banyak,” ujarnya.
Bahkan, kata Yuliana, perwakilan BRI secara proaktif mencatat dan memenuhi kebutuhan yang dianggap penting untuk menunjang perkembangan kebun olahan KWT Mawar 8.
“Pokoknya butuhnya apa yang menunjang kemajuan ini, okelah,” katanya.
Meski sudah berkembang, KWT Mawar 8 tetap memprioritaskan warga sekitar sebagai penerima manfaat utama. Hasil panen dijual dengan harga terjangkau dan sebagian juga dibagikan kepada warga maupun petugas lingkungan.
“Kalau panen selalu izin, ‘Bu, boleh gak kami bagi posyandu? Bu, boleh gak kami bagi security?’ jadi kita berbagi,” kata Yuliana.
Menurutnya, kualitas sayuran juga dijaga dengan serius agar warga mendapat hasil terbaik.

“Cara memberikan sayurannya tidak boleh ada yang kotor, tidak boleh ada ulatnya,” ujarnya.
Sementara itu, Lie Vonny menambahkan KWT Mawar 8 saat ini mampu memperoleh pemasukan sekitar Rp2 juta per bulan dari hasil penjualan sayur. Meski belum besar, hasil tersebut sudah cukup memberi tambahan penghasilan bagi anggota kelompok.
“Awalnya keuangan kami (KWT) zero (nol), bahkan minus,” kata Vonny.
Kini, kelompok tersebut menjadi satu-satunya KWT yang masih aktif bertahan di Kelurahan Porisgaga Baru. Sebab menurut Vonny, banyak kelompok serupa yang akhirnya berhenti di tengah jalan karena sulit menjaga konsistensi.
“Untuk mendirikan suatu KWT itu tidak mudah ya,” katanya.
Menurut dia, mengelola hidroponik membutuhkan ketekunan tinggi karena kegagalan panen bisa datang kapan saja akibat cuaca maupun serangan hama.
“Sudah capek semai ada serangan hama, ada serangan macam-macam, rasa kekecewaan itu pasti ada,” ujarnya.
Meski begitu, Vonny bersama Yuliana dan anggota KWT Mawar 8 lainnya memilih tetap bertahan. Mereka memandang kebun kecil di tengah permukiman itu sebagai ajang untuk berbagi dengan sesama sekaligus menjaga semangat kebersamaan warga.
"Belum sempurna tapi paling tidak menuju kesempurnaan. Pasti bisa dong ya, apalagi kalau banyak yang dukung ya," tutur Vonny.
Ketua RW 004 Kelurahan Porisgaga Baru, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang, M Amiruddin menilai keberadaan KWT Mawar 8 memberi manfaat nyata bagi warga sekitar. Hasil panen dari KWT Mawar 8 memang diprioritaskan untuk kebutuhan warga RW 004.
Menurut dia, sayuran dijual dengan harga lebih murah dibanding pasar agar bisa dijangkau masyarakat sekitar.
“Hasilnya pun dinikmati juga sama warga, harganya pun harga di bawah pasar,” kata Amiruddin.
Dia menilai semangat gotong royong menjadi salah satu kekuatan utama yang membuat KWT Mawar 8 mampu bertahan hingga sekarang. Selain anggota KWT, banyak warga ikut membantu sesuai kemampuan masing-masing.
“Memang kegiatan ini dari kita untuk warga semua, dan itu dirasakan sama warga kita,” ujarnya.
Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan BRI terus menegaskan komitmennya dalam mendukung keberlanjutan dan keberpihakan pada lingkungan. Menurut dia, hasil dari kegiatan urban farming dapat memberikan manfaat bagi anggota KWT maupun masyarakat sekitar.
"Panen bisa dipakai untuk pangan keluarga, dijual untuk tambah penghasilan, atau ditukar dalam program sosial sebagai apresiasi,” ujar Dhanny.
Dia menyatakan kegiatan urban farming yang didukung BRI Peduli diharapkan dapat mengurangi polusi lingkungan hingga menambah keasrian lingkungan. Pelaksanaan BRInita juga mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/ Sustainable Development Goals (SDGs).
Program ini juga mendukung Asta Cita Pemerintah yaitu memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.
"Bersama, kita wujudkan kota yang sehat dan berkelanjutan, demi masa depan pangan yang lebih baik untuk seluruh generasi," ucap Dhanny.
Editor: Rizky Agustian