Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : BI Tahan Suku Bunga Acuan 4,75% di Januari 2026
Advertisement . Scroll to see content

Dana Asing Cenderung Keluar dari Pasar Keuangan Indonesia, Ini Penyebabnya

Jumat, 24 November 2023 - 11:01:00 WIB
Dana Asing Cenderung Keluar dari Pasar Keuangan Indonesia, Ini Penyebabnya
Media Gathering Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), Padalarang, Kamis (23/11/2023). (Foto: iNews/Anggie Ariesta)
Advertisement . Scroll to see content

PADALARANG, iNews.id - Dana asing cenderung keluar dari pasar keuangan Indonesia. Hal ini menjadi mimpi buruk untuk investasi Indonesia, khususnya di pasar saham dan perbankan. 

Pengamat Pasar Uang, Junito Ahmad Haryono, mengatakan tingginya dana asing keluar (capital outflow) dari Indonesia disebabkan kebijakan Bank Indonesia (BI) terkait suku bunga acuan yang masih tinggi. 

Hal itu, lanjutnya, membuat pelaku pasar di Indonesia harus mengolah sedemikian rupa agar suku bunga tidak kelihatan mahal, karena di korporasi masih menikmati suku bunga yang dibawah BI7DRR.

"Kalo dibilang gini, kita mau ikut balapan tapi suku bunga kita berat, kecuali kalau BI menurunkan tingkat suku bunga sampai mendekati angka 3 persen atau 4 persen," kata Junito yang kerap disapa Tomi dalam Media Gathering Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), Padalarang, Kamis (23/11/2023).

Secara domain, BI melihat tekanan capital outflow dari Indonesia cukup besar, sehingga soft payment dan current account-nya mengalami defisit.

"Oleh karena itu terjadi semacam persepsi bahwa ternyata US Treasury yang 10 tahun ada di sekitar 4,5 persen-4,6 persen dibandingkan rupiah bonds yang 10 tahun ada di 6,6 persen itu spare nya cuma 2 persen, tidak menarik dan bahkan berisiko," ujar Tomi.

Dengan US Treasury berada di kisaran 2,8 persen sampai 3,5 persen, artinya orang asing lebih cenderung 'tarik pulang aja deh rupiah bonds nya balikin ke dolar aja' karena dolar AS lebih menarik.

"Bahkan di Singapura juga kita melihat DHE DHE mungkin agak males dateng ke Indonesia karena Singapura masih nawarin 5,7 persen dibanding Indonesia perbankan sekitar 4 persen gitu," ungkap Tomi.

Dia mengungkapkan, BI memang belum bisa menurunkan suku bunga mengingat inflasi yang cukup tinggi. Meski demikian, dia mengapresiassi kebijakan BI untuk mengerem capital outflow. 

Salah satunya dengan meluncurkan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valuta Asing Bank Indonesia (SUVBI). Kebijakan ini diharapkan memancing dolar untuk tetap stay, bahkan masuk ke Indonesia. 

"Jadi masih menarik, untuk orang Indonesia untuk membeli produk depositnya yang dikeluarkan BI bukan bank sebaliknya liquidity nya bank, depositnya bank, sifting pindah ke BI," kata Tomi.

Dia menambahkan, keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 6 persen, membuat Indonesia masih tetap menarik bagi investor, meski ada arus capital outflow yang cukup tinggi beberapa bulan terakhir. 

"Prediksinya Amerika akan tetep higher for longer tapi juga slower for longer artinya masih lama (pertahankan suku bunga), tapi Indonesia masih darling (disayang) lah buat investor (asing)," tutur Tomi.

Editor: Jeanny Aipassa

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut