Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Mimpi Salmi Bawa Terbang Resep Emak ke Pasar Global, Cangcomak Tumbuh Bersama BRI
Advertisement . Scroll to see content

Belajar Setahun, Bertahan Bertahun-tahun: BRI Dampingi Mahdiah Kembangkan Dodol Rumput Laut

Selasa, 30 Juni 2026 - 13:25:00 WIB
Belajar Setahun, Bertahan Bertahun-tahun: BRI Dampingi Mahdiah Kembangkan Dodol Rumput Laut
Dorula, dodol berbahan rumput laut buatan Mahdiah, warga Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, Jakarta. (Foto: Rizky Agustian)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Kelompok usaha yang pernah dipimpinnya memang sudah lama bubar. Pendampingan pun telah berakhir sejak beberapa tahun lalu.

Namun, ilmu yang diperoleh selama mengikuti pemberdayaan Program Peningkatan Keterampilan Usaha Rakyat (PKUR) dari Yayasan Baitul Maal (YBM) BRILiaN masih menjadi bekal utama Mahdiah untuk mempertahankan usaha Dorula, dodol berbahan rumput laut yang dirintisnya di Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta.

Perempuan berusia 56 tahun itu masih rutin mengolah rumput laut menjadi dodol. Produksi memang tidak dilakukan setiap hari, tetapi ketika ada pesanan atau stok mulai menipis, dapur rumahnya kembali dipenuhi aroma manis dodol yang dimasak berjam-jam.

"(Usaha) masih sih. Kemarin saya produksi," kata Mahdiah kepada iNews.id pada Senin (15/6/2026).

Mahdiah bercerita, keberlanjutan usahanya hari ini tidak lepas dari pendampingan yang diterima pada 2020. Saat itu, dia tidak pernah menyangka mengikuti bazar di Balai Kota Jakarta menjadi awal pertemuannya dengan tim BRI.

"Dari 2020. Awalnya saya bazar di Balai Kota. Akhirnya ketemu orang BRI. Datang ke mari orang BRI, suruh bikin kelompok rumput laut," ujarnya.

Pertemuan tersebut melahirkan kelompok usaha yang beranggotakan 10 warga Pulau Panggang. Mahdiah dipercaya menjadi ketua. 

Seluruh anggota kelompok memproduksi dodol rumput laut sebagai upaya meningkatkan nilai tambah hasil rumput laut dari Pulau Panggang yang selama ini lebih banyak dijual dalam bentuk mentah.

Selama kurang lebih satu tahun, mereka memperoleh pendampingan intensif. Mahdiah dan kelompoknya diajarkan cara mengembangkan usaha serta dibekali kemampuan mengelola keuangan dan pembukuan sederhana.

"Terus berjalan dibimbing sama mereka, satu tahun. Diajarin pembukuan, dikasih modal," katanya.

Mahdiah mengolah rumput laut menjadi dodol Dorula di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, Jakarta. (Foto: Rizky Agustian)
Mahdiah mengolah rumput laut menjadi dodol Dorula di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, Jakarta. (Foto: Rizky Agustian)

Menurut Mahdiah, bantuan yang diberikan bukan berupa pinjaman usaha yang harus dikembalikan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR). Dia menerima bantuan modal yang langsung dimanfaatkan untuk membeli perlengkapan produksi.

"Enggak, kita dikasih modal cuma-cuma. Dipakai buat beli perabotan, beli bahan-bahan," ujarnya.

Total bantuan yang diterima Mahdiah dan kelompoknya mencapai lebih dari Rp40 juta. Dana tersebut dibagi kepada seluruh anggota sehingga masing-masing memperoleh sekitar Rp4 juta untuk membeli kompor, wajan, hingga bahan baku.

Selain modal usaha, kelompok juga memperoleh bantuan gerobak sebagai sarana berjualan sehingga produk olahan rumput laut lebih mudah dipasarkan kepada masyarakat.

"Iya, uang waktu itu untuk 10 orang Rp40 juta lebih, bantuan modal berbentuk uang. Kita belanjakan buat bahan baku. Jadi satu orang Rp4 juta lebih, buat beli kompor, wajan, bahan-bahan untuk bikin dodol," katanya.

Kelompok Berakhir, Ilmunya Tetap Dipakai

Program pendampingan memang hanya berlangsung sekitar setahun. Seiring waktu, kelompok usaha yang dibentuk pun tidak lagi aktif. 

Namun, Mahdiah memilih tetap melanjutkan usahanya secara mandiri.

"Kelompoknya sudah bubar, tapi jualannya masih. Dilatih setahun dari BRI, terus kitanya mengembangkan sendiri. Pelatihannya setahun, diajarin pembukuan, gitu-gitu," ujarnya.

Warung milik Mahdiah untuk menjajakan Dorula. (Foto: Rizky Agustian)
Warung milik Mahdiah untuk menjajakan Dorula. (Foto: Rizky Agustian)

Bekal tersebut juga mendorong Mahdiah mengembangkan produk lain. Dia sempat bereksperimen mengolah rumput laut menjadi kerupuk sebagai alternatif produk yang memiliki nilai jual.

Hingga kini, seluruh proses produksi masih mengandalkan cara tradisional. Rumput laut dijemur terlebih dahulu di bawah sinar matahari sebelum diolah menjadi dodol. Karena bergantung pada cuaca, waktu produksi tidak selalu sama.

"Produksi paling lama seminggu, karena kan ini jemur alami. Kalau mataharinya bagus tiga hari jadi," ujarnya.

Dorula dipasarkan dalam kemasan 200 gram dengan harga Rp20.000. Produk tersebut mampu bertahan sekitar satu bulan pada suhu ruang, bahkan lebih lama jika disimpan di dalam freezer.

"Satu bulan. Tapi kalau ditaruh freezer bisa agak lama," kata Mahdiah.

Bank Jemput Nasabah hingga Kepulauan

Dukungan BRI kepada warga Pulau Panggang tidak berhenti pada program pemberdayaan seperti yang pernah diterima Mahdiah. Sekali sepekan, kapal bercat oranye dan biru bersandar di dermaga membawa layanan perbankan yang selama ini sulit dijangkau masyarakat kepulauan.

Kapal itu adalah Bahtera Seva I, kantor layanan terapung milik BRI yang berkeliling melayani masyarakat di Kepulauan Seribu. Kehadirannya membuat warga tak perlu lagi menyeberang ke daratan Jakarta hanya untuk mengurus administrasi perbankan.

Setiap hari, kapal memiliki rute yang berbeda. Bank terapung itu berpindah ke sejumlah pulau mulai dari Pramuka, Panggang, Kelapa dan Harapan, Tidung, serta Untung Jawa.

Kepala Teras BRI Kapal Bahtera Seva I, Algi Meza, mengatakan seluruh layanan di atas kapal dibuat sama seperti di kantor cabang di darat. Bedanya, kantor tersebut berpindah-pindah untuk melayani masyarakat kepulauan.

"Pelayanannya sih hampir sama dengan perbankan di darat, cuma bedanya kita bank terapung. Kita perbankan yang jemput bola lah," ujar Algi.

Setiap kali kapal bersandar di Pulau Panggang, rata-rata lebih dari 20 nasabah memanfaatkan layanan tersebut. Ada yang mengganti kartu ATM, membuka blokir PIN, mengganti buku tabungan, menyetor dan menarik uang tunai, hingga mengajukan pinjaman.

"Pelayanannya macam-macam, ada yang ganti kartu, PIN yang terblokir, ada yang ganti buku, ada yang penarikan, ada yang setor tunai, ada juga yang pengajuan pinjaman," katanya.

Mayoritas masyarakat yang dilayani merupakan nelayan. Selain itu, terdapat pedagang sembako, pemilik warung, hingga pelaku usaha mikro yang menggantungkan aktivitas ekonominya di wilayah kepulauan.

Selain melayani transaksi masyarakat, Bahtera Seva I juga menjadi tempat penyetoran dana bagi jaringan AgenBRILink yang tersebar di Kepulauan Seribu. Para agen tersebut menjadi perpanjangan tangan BRI ketika kapal belum tiba di pulau.

"Kebanyakan di sini kita terima setoran dari AgenBRILink. Karena mitra kita yang membantu kita sewaktu-waktu enggak ke pulau, jadi kebanyakan nasabah kita setor tariknya di AgenBRILink," ujarnya.

Tingginya aktivitas transaksi membuat kas yang dibawa kapal menuju daratan setiap pekan dapat mencapai miliaran rupiah.

"Rata-rata kita dari Senin sampai Jumat kas kita itu paling besar Rp2 miliar. Paling kecilnya di bawah Rp1 miliar," kata Algi.

Antusiasme warga terhadap layanan terapung ini pun tidak pernah surut. Bahkan sebelum kapal merapat ke dermaga, antrean nasabah biasanya sudah mulai terbentuk.

Meski memiliki jam operasional yang sama seperti kantor layanan di darat, petugas tetap memastikan seluruh warga yang sudah mengantre mendapatkan pelayanan.

"Kalau dari masyarakat mereka antusias. Sebelum kapal menyandar, mereka pasti sudah mengantre biasanya untuk pelayanan. Kadang ngomel ke kita, 'Pak kok lama banget sih?' Kita kan tergantung perjalanannya juga. Tadi kan lumayan ombaknya, jadi perjalanan agak ngaret," ujarnya.

Tak Perlu Menyeberang demi Urusan Bank

Salah satu warga Pulau Panggang lainnya, Mastunih menilai kehadiran Kapal Bahtera Seva I bukan sekadar memudahkan transaksi perbankan. Layanan tersebut juga menghemat waktu dan biaya karena warga kepulauan seperti dirinya tak lagi harus menyeberang ke daratan hanya untuk mengurus rekening atau mencairkan bantuan sosial.

Perempuan berusia 45 tahun itu menjadi salah satu nasabah yang datang ke kapal saat bersandar di dermaga Pulau Panggang. Siang itu, dia datang untuk mengecek pencairan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diterimanya secara berkala.

"Iya, tadi cek bantuan BLT. Bantuan dari bansos itu," kata Mastunih.

Selain menerima bantuan sosial, Mastunih sesekali juga menyisihkan penghasilannya untuk ditabung di BRI. Meski nominalnya tidak besar, dia berusaha tetap menyimpan sebagian uang hasil berdagang.

Sehari-hari, Mastunih berkeliling Pulau Panggang menjajakan jelly. Penghasilannya tidak menentu, rata-rata sekitar Rp500.000 dalam sebulan, bahkan terkadang lebih kecil ketika dagangan sedang sepi.

"Sebulan dapat lah Rp500.000. Enggak tentu, suka ada dapat, kadang enggak," katanya.

Mastunih mengaku telah menjadi nasabah BRI sejak 2020. Selama itu pula dia merasakan manfaat layanan perbankan terapung yang hadir langsung ke pulau tempat tinggalnya.

Menurut dia, keberadaan Kapal Bahtera Seva I membuat urusan perbankan menjadi jauh lebih mudah karena warga tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk menyeberang ke Jakarta.

Alasan itulah yang membuat Mastunih tetap memilih menjadi nasabah BRI. "Alhamdulillah terbantu, bagus. Lebih dekat ya, karena datang langsung. Enggak perlu menyeberang-menyeberang," ujarnya.

Editor: Rizky Agustian

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut