Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Sate Ayam Barokah Mayestik Makin Laris Berkat QRIS BRI, Transaksi Lebih Praktis
Advertisement . Scroll to see content

Belajar dari Masa Sulit, Craftote Bangkit lewat Pendampingan Rumah BUMN BRI

Minggu, 24 Mei 2026 - 15:58:00 WIB
Belajar dari Masa Sulit, Craftote Bangkit lewat Pendampingan Rumah BUMN BRI
Craftote Gallery & Coffee. (Foto: Rizky Agustian)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Perjalanan bisnis Craftote Gallery & Coffee yang dibangun Thio Siujinata ternyata tak selalu berjalan mulus. Usaha itu sempat berkembang terlalu cepat hingga membuat Thio menghadapi persoalan serius.

Baru berdiri pada Oktober 2021 di tengah pandemi Covid-19, usaha milik Thio itu langsung berkembang setelah bergabung dengan Rumah BUMN BRI. Tak lama kemudian, tepatnya pada 2023, jumlah coffee shop milik Thio berkembang menjadi empat gerai di berbagai lokasi.

Namun, Thio mulai menyadari keuangan usaha berantakan, pengeluaran tidak tercatat rapi, sementara fokus bisnis mulai bergeser dari kekuatan utamanya yakni kerajinan tangan berbahan serat alam.

“Kayaknya ada yang salah nih, karena kita kan gak digaji. Waktu itu keuangan kita masih kacau,” kata Thio saat ditemui iNews.id di Craftote Gallery & Coffee, Tomang, Jakarta Barat, dikutip Minggu (24/5/2026).

Pria lulusan Desain Komunikasi Visual Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu mengaku sempat terlena melihat bisnis coffee shop miliknya berkembang pesat.

“2021 kita buka ini, 2021 juga kita punya dua coffee shop, di sini sama di sana Rumah BUMN BRI. 2022 saya buka lagi. (Total) saya punya empat, (dua lainnya) di Pos Bloc sama di RS Pelni,” ujarnya.

Rumah BUMN BRI Jadi Titik Balik

Di tengah ekspansi tersebut, Thio dan istrinya mulai mengevaluasi kondisi usaha. Mereka baru menyadari bisnis berkembang terlalu cepat tanpa sistem yang matang.

“Duduk bareng-bareng coba periksa, di situlah kita sadar, boncos. Habis berapa ratus juta gitu gak kecatat,” kata Thio.

Thio Siujinata, pemilik Craftote Gallery & Coffee. (Foto: Rizky Agustian)
Thio Siujinata, pemilik Craftote Gallery & Coffee. (Foto: Rizky Agustian)

Dari situ, Thio akhirnya memahami kekuatan utama Craftote bukan berada di bisnis makanan dan minuman, melainkan pada produk kerajinan tangan berbahan serat alam seperti eceng gondok, pelepah pisang, bambu, hingga purun.

“Karena kekuatan kita bukan di F&B (food and beverage), kekuatan kita di kerajinan tangan, craftingnya,” ujarnya.

Keputusan besar pun diambil. Dua gerai coffee shop yang baru dibuka akhirnya ditutup. Thio memilih kembali fokus membangun Craftote dari fondasi yang lebih kuat.

Dia kembali aktif mengikuti berbagai kegiatan yang disediakan Rumah BUMN BRI, salah satunya kelas keuangan yang membuka matanya.

“Akhirnya kita masuk lagi ke Rumah BUMN BRI. Ikut kelas keuangan. Di situ kita baru sadar, habis deh belajar di situ,” katanya.

Galeri kerajinan tangan Craftote Gallery & Coffee. (Foto: Rizky Agustian)
Galeri kerajinan tangan Craftote Gallery & Coffee. (Foto: Rizky Agustian)

Menurut Thio, pendampingan yang diberikan Rumah BUMN BRI tidak berhenti pada penyediaan tempat usaha semata. Dia mengaku mendapatkan banyak pelajaran terkait pengelolaan usaha, pengembangan jejaring, hingga strategi ekspor.

Dari Rumah BUMN BRI ke Pasar Ekspor

Perjalanan Thio bersama Rumah BUMN BRI bermula tak lama setelah Craftote dibuka. Saat itu, Tim BRI datang langsung melihat konsep usaha yang menggabungkan galeri kerajinan tangan dengan coffee shop.

“Cuma yang lirik kita sungguh-sungguh itu BRI. BRI datang ke sini,” ujar Thio.

Tak lama kemudian, Craftote mendapat tantangan mengikuti kompetisi kopi yang digelar Rumah BUMN BRI. Thio sempat tidak percaya ketika dinyatakan menang dan mendapat fasilitas coffee shop gratis.

“Dia bilang, ‘Kalau menang, Bapak dapat kafe kedua gratis.’ Saya makin gak percaya,” katanya.

Kerajinan tangan yang dipajang di Craftote Gallery & Coffee. (Foto: Rizky Agustian)
Kerajinan tangan yang dipajang di Craftote Gallery & Coffee. (Foto: Rizky Agustian)

Setelah itu, Craftote mendapat tempat usaha di Rumah BUMN BRI lengkap dengan fasilitas pendukung seperti meja, kursi, pendingin ruangan, hingga listrik dan air tanpa biaya tambahan selama dua tahun.

Dari sanalah jaringan usaha Craftote mulai berkembang. Thio mengaku diperkenalkan dengan berbagai komunitas, pameran, hingga peluang business matching yang memperluas pasar produk kerajinan tangannya.

“Kalau gak sama BRI kita gak dikenal sampai puluhan kilometer,” ujarnya.

Tak hanya itu, melalui berbagai program pelatihan dan kelas ekspor yang diikutinya bersama BRI, kerajinan tangan Craftote akhirnya berhasil menembus pasar internasional.

“Nah dari BRI juga akhirnya kita ekspor. Ekspornya ke mana? Ke Kanada,” kata Thio.

Kini produk Craftote telah dikirim ke Kanada, Australia, Jepang, hingga Inggris dalam skema less container load (LCL). Untuk pasar Kanada saja, Thio mengaku sudah tujuh kali melakukan pengiriman dengan buyer yang sama.

Fokus ke Kerajinan Tangan Ramah Lingkungan

Setelah melewati masa sulit, Craftote kini lebih fokus mengembangkan produk berbahan serat alam yang ramah lingkungan. Salah satu material utamanya adalah eceng gondok, tanaman yang selama ini kerap dianggap gulma.

“Ini sebenarnya sampah, gulma. Artinya ketika gak diolah sedemikian rupa, orang gak mau repot cuma satu, dibakar,” ujar Thio.

Melalui tangan para perajin di Yogyakarta, bahan-bahan tersebut diolah menjadi tas, keranjang, lampu, hingga berbagai produk dekorasi rumah dengan sentuhan desain modern.

Thio mengaku pengalaman bersama Rumah BUMN BRI membuatnya memahami pentingnya membangun bisnis secara bertahap dan terukur.

“Makanya sempat nyesel juga kenapa baru tahu Rumah BUMN BRI ini di usia tua, kenapa bukan dari usia muda,” katanya.

Keunikan lini usaha yang menggabungkan kerajinan tangan dan kopi membuat pengunjung betah berlama-lama. Salah satunya Dea, mahasiswi asal Grogol Petamburan, Jakarta Barat.

Dia mengaku kerap singgah ke Craftote Gallery & Coffee. Menurut dia, lokasi usaha Thio menjadi tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas akhir.

"Lumayan, seringnya pas kerjain skripsi kayak sekarang. Tempatnya enak," ujar Dea kepada iNews.id.

Selain kenyamanan tempat, Dea juga mengapresiasi keunikan koleksi kerajinan tangan yang dipajang di Craftote Gallery & Coffee.

"Desainnya unik, bagus. Produknya juga bagus," ucap dia.

Sementara itu, Corporate Secretary BRI Dhanny menyatakan BRI berkomitmen mendukung UMKM agar tumbuh berkelanjutan dan berdaya saing global. Dia mengatakan Rumah BUMN menyediakan ekosistem yang terintegrasi untuk mewujudkan dukungan tersebut.

Dhanny menuturkan Rumah BUMN BRI berfokus pada penguatan branding, business matching, hingga peningkatan kompetensi para UMKM. Langkah ini diharapkan mampu menjadikan UMKM sebagai motor penggerak ekonomi nasional.

“BRI melalui Rumah BUMN terus mendorong UMKM untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas melalui penguatan kapasitas usaha, perluasan akses pasar, dan pendampingan berkelanjutan,” ujar Dhanny.

Editor: Rizky Agustian

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut