Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : BNI Cetak Laba Bersih Rp20 Triliun di 2025, Kredit Tumbuh 15,9%
Advertisement . Scroll to see content

Begini Strategi BRI Bikin Pengusaha Ultra Mikro Naik Kelas

Rabu, 26 Januari 2022 - 19:39:00 WIB
Begini Strategi BRI Bikin Pengusaha Ultra Mikro Naik Kelas
Ilustrasi pelaku UMKM sedang memproduksi karya kerajinan rotan. (Foto: ANTARA)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id Pandemi Covid-19 membuat ekonomi masyarakat terpuruk. Sebagian pelaku usaha di Tanah Air pun terpaksa menutup bisnis mereka akibat terdampak berbagai pembatasan sosial selama masa sulit itu.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI berusaha mengambil peran untuk meminimkan dampak buruk pandemi itu. Salah satu caranya yaitu dengan mengembangkan ekosistem ultra mikro untuk memajukan perekonomian bangsa.

Ultra mikro adalah jenis usaha perorangan yang skalanya lebih kecil lagi dibandingkan dengan usaha mikro. Pada umumnya, para pelaku usaha di segmen ini belum tersentuh akses keuangan atau pendanaan.

Corporate Secretary BRI, Aestika Oryza Gunarto menuturkan, pengembangan ekosistem ultra mikro menjadi bagian dari strategi BRI dalam memberdayakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk tumbuh berkelanjutan. 

“Prinsipnya adalah melayani masyarakat sebanyak mungkin, dengan biaya seefisien mungkin,” ungkapnya dalam pembukaan tahap Journalist on Site Program BRI Fellowship Journalism 2021, yang digelar secara daring, akhir pekan lalu.

Dia mengatakan, pada 2018 saja, ada sekira 45 juta nasabah ultra mikro yang membutuhkan pendanaan tambahan. Dari jumlah tersebut, baru 15 juta nasabah yang dapat dilayani oleh lembaga keuangan formal seperti bank, jasa gadai, pinjaman kelompok, BPR, dan industri tekfin (teknologi finansial).

Sementara, 12 juta nasabah lainnya dilayani oleh rentenir dan kerabat atau keluarga mereka. Adapun sisanya yang 18 juta nasabah lagi belum mendapatkan akses pendanaan sama sekali. 

“Potensi ultra mikro yang sangat besar ini dapat memperkuat core competence (kompetensi utama) BRI di segmen mikro dan kecil,” tutur Aestika.

Pada 13 September lalu, BRI resmi menjadi induk holding BUMN Ultra Mikro. Holding tersebut melibatkan tiga entitas BUMN yakni BRI, PT Pegadaian (Persero), dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM.

Lewat sinergi ketiga BUMN itu, diharapkan ada tiga tahap perjalanan terintegrasi bagi usaha segmen ultra mikro untuk terus tumbuh dan berkembang. Tahap pertama yaitu empower atau pemberdayaan. Pada tahap ini, PNM akan memberdayakan usaha kelompok masyarakat prasejahtera agar dapat menjadi wirausaha yang mandiri.

Tahap berikutanya adalah integrate. Pada tahap ini, kebutuhan pendanaan tambahan bagi nasabah ultra mikro yang telah berkembang usahanya dapat dilayani oleh BRI dan Pegadaian. Sebagai contoh pendanaan tambahan dari BRI adalah lewat produk KUR Mikro.

Tahap selanjutnya adalah upgrade, yakni para pelaku usaha ultra mikro berhasil “naik kelas” ke segmen mikro. Di sini, nasabah dapat dilayani oleh BRI melalui produk Kupedes (Kredit Umum Pedesaan).

Kepala Rumah BUMN BRI, Teguh Rahadian mengatakan, setelah menerima Kupedes, para pelaku usaha yang sudah naik kelas ke segmen UMKM itu tidak dilepas begitu saja, melainkan terus didampingi. Pendampingan antara lain dilakukan lewat BRIncubator, yakni program yang berorientasi pada pemberian akses pembiayaan dan peningkatan kapasitas serta kapabilitas UMKM secara digital.

Melalui program tersebut, para pelaku usaha diberi pelatihan secara intensif, termasuk bagaimana mengoptimalkan jalur digital atau online untuk meningkatkan pendapatan. Program ini juga berfokus pada persiapan UMKM menuju pasar ekspor.

Editor: Ahmad Islamy Jamil

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut