Alibaba dan Tencent Masuk Daftar Hitam AS Terkait Perdagangan Barang Palsu
WASHINGTON, iNews.id - Dua raksasa teknologi asal China, Alibaba dan Tencent dimasukkan ke dalam daftar pasar 'hitam' oleh Pemerintah Amerika Serikat (AS). Keduanya diyakini terlibat dengan perdagangan barang palsu.
Dikutip dari BBC, daftar tersebut mengidentifikasi 42 situs online dan 35 toko fisik, termasuk platform e-commerce, yang dijalankan oleh perusahaan.
Badan perdagangan AS mengatakan, mereka terlibat dalam atau memfasilitasi pemalsuan merek dagang substansial atau privasi hak cipta. AS dan China berada dalam perselisihan jangka panjang mengenai perdagangan dan teknologi.
"Perdagangan global barang palsu dan bajakan merusak inovasi dan kreativitas penting AS dan merugikan pekerja Amerika," ujar Perwakilan Dagang AS Katherine Tai dalam sebuah pernyataan dikutip, Senin (21/2/2022).
Bisnis Barang Tak Biasa Ini Nilainya Sentuh Rp9.245 Triliun, Apa Itu?
Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) menjelaskan, daftar ini untuk pertama kalinya mencakup situs e-commerce AliExpress dan WeChat. AliExpress dimiliki oleh Alibaba dan WeChat dioperasikan oleh Tencent.
BPJS Kesehatan Jadi Syarat Urus SIM, STNK hingga Naik Haji
Mereka menyebut situs-situs tersebut dua pasar online signifikan berbasis di China yang dilaporkan memfasilitasi pemalsuan merek dagang yang substansial. AliExpress dan WeChat disebut memfasilitasi toko online yang berbasis di China Baidu Wangpan, DHGate, Pinduoduo dan Taobao, serta sembilan pasar fisik yang berlokasi di China yang dikenal untuk pembuatan, distribusi, dan penjualan barang palsu.
Pihak Tencent menyebut, pihaknya telah menginvestasikan sumber daya yang signifikan untuk melindungi hak kekayaan intelektual pada platformnya.
Harga Kripto Anjlok Imbas Ketegangan Rusia-Ukraina, Bitcoin Keluar dari Level Psikologis
"Kami sangat tidak setuju dengan keputusan yang dibuat oleh Perwakilan Dagang Amerika Serikat dan berkomitmen untuk bekerja secara kolaboratif untuk menyelesaikan masalah ini," kata seorang juru bicara.
Dalam tinjauan tahunan yang dirilis pada hari Rabu lalu, USTR mengatakan China telah berulang kali gagal memenuhi komitmen perdagangannya meskipun menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia.
Kisah Nurul Atik, Mantan OB Jadi Pengusaha Sukses
Mereka juga menuduh China menyebabkan kerugian serius bagi pekerja dan perusahaan di seluruh dunia dengan kebijakan perdagangannya.
Editor: Aditya Pratama