Selain itu, masyarakat juga menyoroti kebutuhan peningkatan fasilitas kesehatan dan pendidikan agar pelayanan publik dapat dirasakan secara merata hingga ke wilayah terpencil. Di sisi lain, warga berharap potensi besar sektor kelautan dan perikanan dapat mendapat perhatian lebih melalui program pemberdayaan dan dukungan pemerintah.
Musa menegaskan, aspirasi yang dihimpun selama reses tidak akan berhenti sebagai catatan lapangan semata. Seluruh masukan masyarakat akan dibawa ke tingkat pembahasan dewan untuk diperjuangkan menjadi program pembangunan yang nyata.
“Setiap aspirasi yang kami terima akan menjadi bahan perjuangan di DPR Papua Barat. Apa yang disampaikan masyarakat akan kami dorong agar masuk dalam prioritas pembangunan, baik melalui penganggaran maupun kebijakan yang berpihak kepada kesejahteraan rakyat,” katanya.
Menurutnya, pembangunan yang efektif harus berangkat dari kebutuhan riil masyarakat di lapangan. Karena itu, kehadiran wakil rakyat di tengah warga menjadi penting untuk memastikan kebijakan yang lahir tidak jauh dari persoalan yang sesungguhnya.
Musa berharap kegiatan reses dapat semakin mempererat hubungan antara masyarakat dan wakil rakyat, sekaligus menjadi jembatan agar setiap suara warga Teluk Bintuni mendapat ruang dalam proses perencanaan pembangunan daerah.
“Aspirasi mereka harus terus diperjuangkan agar pembangunan yang dilakukan benar-benar menjawab kebutuhan rakyat dan membawa Teluk Bintuni ke arah yang lebih maju,” ujar Sarjana Teknik lulusan Universitas Papua ini.