Malam 1 Suro Menurut Islam, Ini Amalan dan Keutamaannya

Kastolani Marzuki
Kebo bule menjadi cucuk lampah dalam kirab malam 1 Suro di Keraton Solo. (Dok Foto Ahmad Antoni)

JAKARTA, iNews.id - Malam 1 Suro bagi masyarakat Jawa merupakan malam sakral dan keramat. Lantas, bagaimana pandangan Malam 1 Suro menurut Islam?

Di Indonesia khususnya dalam masyarakat Jawa, Sura atau Suro identik dengan suasana keramat, sakral dan mistis. Mereka juga dilarang keluar rumah pada malam 1 Suro karena dikhawatirkan roh-roh atau makhluk ghaib berkeliaran bebas.

Sehingga, dikhawatirkan akan memengaruhi orang yang keluar rumah pada malam1 Suro sehingga akan berdampak buruk pada perilakukan. 

Muhammad Sholikhin dalam bukunya Misteri Bulan Suro: Perspektif Islam-Jawa (2010) dilansir dari pcnucilacap, Bulan Muharram adalah nama bulan pertama pada sistem penanggalan hijriah yang oleh Sultan dinamakan sebagai Bulan Suro.

Kata Suro merupakan sebutan bagi bulan Muharram dalam masyarakat Jawa, yang sebenarnya berasal dari kata “asyura” dalam bahasa Arab yang berati “sepuluh”, yang dirujukkan kepada tanggal 10 bulan Muharram. 

Keraton Solo akan menggelar kirab kebo bule dan jamasan pusaka pada Malam 1 Suro. (Foto: ist)

Asyura dalam lidah masyarakat Jawa menjadi Suro. Sehingga, kata Suro sebagai khasanah Islam-Jawa sebagai nama bulan pertama kalender Islam maupun Jawa.

Bulan Suro  bagi masyarakat khususnya masyarakat Jawa dianggap sebagai bulan keramat atau sakral. Kekeramatan bulan Suro yang secara turun temurun diakui dan menimbulkan kepercayaan bahwa bentuk-bentuk kegiatan seperti pernikahan, hajatan dan sebagainya tidak berani dilakukan.

Malam 1 Suro Menurut Islam

Dalam pandangan Islam, Malam 1 Suro atau malam 1 Muharram merupakan waktu terbaik untuk berdoa dan melakukan amaliah ibadah. Malam 1 Suro juga menjadi momentum tepat bagi Muslim untuk bermuhasabah atas perbuatan yang telah dilakoni selama setahun terakhir.

Karena itu, tiap muslim dianjurkan untuk membaca doa akhir tahun dan awal tahun hijriah, membaca istighfar, dan melaksanakan sholat sunnah atau qiyamul lail.

Ustaz Firman Arifandi dari Rumah Fiqih Indonesia menjelaskan, ada sebuah dalil berkaitan amalan doa awal dan akhir tahun hijriah yang diyakini merupakan amalan dari para sahabat Nabi melalui riwayat Abdullah bin Hisyam dalam al mu’jam al awsath imam Thabrani:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ الصَّائِغُ قَالَ: نا مَهْدِيُّ بْنُ جَعْفَرٍ الرَّمْلِيُّ قَالَ: نا رِشْدِينُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ أَبِي عُقَيْلٍ زُهْرَةُ بْنُ مَعْبَدٍ، عَنْ جَدِّهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ هِشَامٍ قَالَ: «كَانَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَتَعَلَّمُونَ هَذَا الدُّعَاءَ إِذَا دَخَلْتِ السَّنَةُ أَوِ الشَّهْرُ: اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ، وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلَامَةِ، وَالْإِسْلَامِ، وَرِضْوَانٍ مِنَ الرَّحْمَنِ، وَجَوَازٍ مِنَ الشَّيْطَانِ»

Dari Abdullah bin Hisyam, ia berkata bahwa para Sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mempelajari doa berikut jika memasuki tahun atau bulan “Ya Allah, masukan kami ke dalamnya dengan aman, iman, selamat dan Islam. Mendapatkan ridho Allah dan dijauhkan dari gangguan syetan” (HR Thabrani, Al Hafizh Al Haitsamiy menilai Hasan).

Editor : Kastolani Marzuki
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Jelang 1 Suro, Sumber Air di Malang Berwarna Merah Darah dan Beraroma Wangi

57 tahun lalu

Khutbah Jumat Akhir Bulan Dzulhijjah: Menyambut Tahun Baru Islam 1446 H

57 tahun lalu

Kapan Malam 1 Suro 2024? Cek Kalender, Tradisi, Larangan, dan Amalannya

57 tahun lalu

Cara Menghitung 1000 Hari Orang Meninggal? Simak Rumus dan Hukum Tahlilan

57 tahun lalu

Bacaleg Perindo GKR Ayu Sebut Tradisi Kirab Pusaka Malam 1 Suro Harus Terus Dilestarikan

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal