Sejak itu, mayat warga Dusun Legetang masih terkubur bersama rumahnya. Faktor keterbatasan alat, upaya pencarian korban hanya dilakukan di titik-titik yang diduga merupakan lokasi rumah petinggi Dusun Legetang.
Cerita mengenai bencana Legetang tersebut dikaitkan dengan azab kemaksiatan yang terjadi di sana. Walaupun, kebenarannya tidak diyakini, masyarakat sekitar mendengar cerota gethak tular (dari mulut ke mulut).
Adanya budaya homoseksual prostisusi dan perjudian menjadi berita yang marak diisukan terjadi di Legetang, seperti kaum sodom. Bahkan, tersebar cerita, langgar atau mushola di Legetang telah digunakan untuk hal yang menyimpang, dipakai sebagai tempat judi.
Kisahnya dikaitkan seperti dalam cerita Sodom dan Gomorah di Alkitab atau Al Qur’an. Kebanyakan orang di sana memercayai dan meyakini, desa atau dusun tersebut terkutuk. Sebab, antara Legetang dan Gunung Pengamun-amun terdapat jurang dan sungai yang cukup dalam.
Namun, pada kenyataannya longsoran yang dikirim dari gunung itu seakan-akan melompati sungai dan langsung menjatuhi Dusun Legetang. Inilah yang memperkuat cerita azab yang menimbun dan menghilangkan 'Dukuh Sodom', Legetang dalam semalam.