Muchamad Nabil Haroen
Anggota Komisi IX DPR Fraksi PDI Perjuangan;
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa Nahdlatul Ulama.
TERKAIT dengan momentum kemerdekaan ke-75 Republik Indonesia, ada beberapa hal mendasar yang patut menjadi renungan.Pertama, merdeka dari kesenjangan. Dalam kurun waktu 75 tahun Indonesia merdeka, masih terasa kesenjangan ekonomi, politik, sosial dan pendidikan.
Ekonomi kita sebagian besar masih dikuasai segelintir elite, yang menghegemoni kekuasaan dengan kekuatan finansial. Bahkan, jarak antara si kaya dan si miskin makin jauh, apalagi di tengah pandemi sekarang ini.
Di bidang sosial dan pendidikan juga sama, masih ada kesenjangan dalam fasilitas bagi saudara-saudara kita di wilayah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T). Juga, pentingnya perhatian dan dukungan pemerintah dalam pendidikan pesantren.
Kedua, merdeka dari oligarki dan mafia ekonomi-kesehatan. Dalam beberapa tahun terakhir, perdebatan terkait dengan mafia ekonomi dan kesehatan semakin meruncing. Juga, kebijakan-kebijakan yang sebagian terasa kepentingan oligarki, yang meminggirkan peran rakyat kecil.
Juga, mafia-mafia di bidang ekonomi dan kesehatan, yang selama ini menghambat perbaikan sistem untuk transformasi Indonesia. Maka, mari jadikan Indonesia sebagai negara untuk semua. Kelompok yang memegang kendali ekonomi dan kekuasaan, seharusnya mengayomi dan mengangkat rakyat kita, serta para pengusaha muda.
Ketiga, merdeka untuk melahirkan pemimpin di tengah pandemi. Ada pepatah kuno, bahwa pemimpin hebat lahir di tengah krisis. Maka, krisis dan pandemi sekarang ini, harus jadi semangat kita bersama, untuk bergotong-royong, saling bantu, serta melahirkan pemimpin besar yang bervisi global dengan nilai-nilai Pancasila dan keindonesiaan.