Imlek, Tahun Kuda, dan Harapan atas Kepemimpinan Prabowo

Kastolani Marzuki
Dr Aprilianti Pratiwi, Dosen Communication Sustainabel Development dan Komunikasi Lintas Budaya, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Pancasila dan Peneliti Great Institute. (Foto: ist)

Dr Aprilianti Pratiwi

Dosen Communication Sustainabel Development dan Komunikasi Lintas Budaya, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Pancasila dan Peneliti Great Institute

PERAYAAN Imlek di Indonesia bukan sekedar momen penting pergantian tahun dalam kalender lunar. Ia sudah menjadi ruang simbolik tempat sejarah, identitas, dan relasi kuasa yang saling berkelindan. Pada masyarakat majemuk seperti Indonesia, perayaan Imlek tak hanya sebuah perayaan semata, tetapi menjadi tolak ukur sejauh mana negara memberi ruang pada keberagaman budaya dan ekspresi identitas. 

Tahun ini, Imlek hadir dengan dua konteks yang penting dan saling bertalian, Indonesia berada di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo dan kalender Tionghoa memasuki Tahun Kuda. Menurut tradisi Tionghoa, kuda dilambngkan  sebagai kekuatan, keberanian, kecepatan, dan daya jelajah. Kuda merupakan simbol gerak, bukan stagnasi. Ia tidak diam di kandang, tetapi melaju ke depan, menembus medan yang sulit.

Metafora ini relevan dengan harapan masyarakat kita terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo di periode awal pemerintahannya.

Imlek sebagai Penanda Perubahan Sosial

Jika dibandingkan dengan beberapa dekade lalu, posisi Imlek di ruang publik Indonesia telah mengalami transformasi besar. Pada beberapa era pemerintahan sebelumnya, Imlek dianggap sebagai perayaan kaum minoritas yang terpinggirkan dan terlupakan. Namun kini, Imlek telah dirayakan secara terbuka. Terlihat di berbagai ruang publik warna merah dan ornamen ala Imlek mendominasi dan  ikut menyemarakkan perayaan tradisonal warga Tionghoa ini.

Begitupun di media massa, pemberitaan mengenai Imlek pun mudah diakses. Bahkan untuk menghormatinya hari Imlek diinstitusionalkan sebagai hari libur nasional. Namun, penerimaan simbolik ini tak serta-merta menghapus seluruh lapisan persoalan sosial yang kadang dihadapi warga Tionghoa Indonesia.

Masih banyak pekerjaan rumah di Indonesia terkait kesetaraan, representasi, dan perlindungan dari prasangka berbasis identitas. Oleh sebab itu, Imlek tak hanya layak dianggap sebagai perayaan budaya, namun juga sebagai momen refleksi negara, yaitu sejauh mana keberagaman benar-benar dihayati, bukan hanya sekedar dirayakan secara seremonial saja.

Editor : Kastolani Marzuki
Artikel Terkait
Nasional
12 jam lalu

Long Weekend Imlek, 537.181 Kendaraan Tinggalkan Jabotabek

Megapolitan
17 jam lalu

Cerita Warga Jauh-Jauh Datang ke Monas demi Saksikan Pertunjukan Imlek

Destinasi
2 hari lalu

Makna Filosofis di Balik Ritual Cuci Rupang di Imlek 2026, Cari Tahu di Sini!

Internasional
5 bulan lalu

Teror Bangkai Babi di Masjid-Masjid Singapura, Pelaku Ditangkap

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal