MEXICO CITY, iNews.id - Meksiko berubah menjadi medan tempur setelah tewasnya gembong narkoba paling ditakuti, Nemesio Ruben Oseguera Cervantes alias El Mencho, dalam operasi militer di Tapalpa, Negara Bagian Jalisco.
Kematian bos Kartel Generasi Baru Jalisco (CJNG) itu justru memicu gelombang kekerasan nasional yang meluas ke sedikitnya 20 dari 32 negara bagian.
Operasi yang berlangsung di kampung halaman El Mencho pada Minggu (22/2/2026) awalnya dipandang sebagai pukulan telak bagi jaringan narkoba terbesar di Meksiko. Namun hanya dalam hitungan jam setelah kabar kematiannya menyebar, kelompok-kelompok bersenjata melakukan aksi balasan terkoordinasi.
Bus-bus dibakar, pusat bisnis diserang, dan akses jalan utama ditutup menggunakan kendaraan yang kemudian dibakar. Situasi mencekam dilaporkan dari Jalisco, Michoacan, Guanajuato, Tamaulipas, hingga Nuevo Leon.
Seorang warga di Zitacuaro, Michoacan, menggambarkan situasi yang kacau.
“Ketakutan di masyarakat sangat luar biasa. Mereka bisa menghancurkan satu kota dalam hitungan menit,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Perang Perebutan Kekuasaan
Pengamat keamanan menilai kekerasan ini bukan sekadar aksi balas dendam, melainkan awal dari perang perebutan kekuasaan di dalam dan antar kartel. Sepeninggal El Mencho, struktur komando CJNG terancam terpecah, membuka peluang bagi faksi internal maupun kartel rival untuk memperluas wilayah.
El Mencho selama ini dikenal sebagai figur sentral yang memegang kendali ketat atas operasi penyelundupan fentanyl, sabu-sabu, dan kokain ke Amerika Serikat. Pemerintah AS bahkan memasang sayembara 15 juta dolar AS untuk menangkapnya.
Tanpa figur pemersatu, potensi konflik horizontal di tubuh CJNG diperkirakan semakin besar dan berdampak luas terhadap stabilitas nasional.