WASHINGTON, iNews.id - Laporan komunitas intelijen Amerika Serikat (AS) memperkirakan Iran telah memulihkan akses terhadap 30 dari 33 fasilitas rudal di sepanjang Selat Hormuz. Fasilitas tersebut termasuk situs-situs peluncuran dan penyimpanan bawah tanah.
Beberapa sumber pejabat AS mengatakan kepada surat kabar The New York Times (NYT), Iran mempertahankan sekitar 70 persen dari persediaan rudal sebelum perang, termasuk rudal balistik dan jelajah. Data ini bertentangan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump serta pejabat Departemen Pertahanan (Pentagon) bahwa sebagian besar kemampuan rudal Iran telah dihancurkan.
"Sebagian (fasilitas rudal) atau bahkan sepenuhnya tetap beroperasi," kata sumber pejabat tersebut.
Sebaliknya, operasi militer AS melawan Iran secara signifikan mengurangi persediaan amunisi AS, klaim yang juga dibantah Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Dalam pertemuan dengan DPR, Selasa (12/5/2026), Hegseth menepis kekurangan amunisi dan menyebut kabar itu dilebih-lebihkan. Dia menegaskan, AS memiliki persediaan amunisi untuk perang.
Laporan lembaga think tank, Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada 21 April, mengungkap AS berisiko menghadapi kekurangan rudal dalam potensi konflik skala besar di masa depan karena menipisnya persenjataannya akibat perang Timur Tengah.