Ketika Musik dan Teater Terjemahkan Nasib Penambang

Siska Permata Sari
Pertunjukan musik dan teater “Baromban dan Mitos Tambang”. (Foto: Image Dynamic)

JAKARTA, iNews.id - Seni tak hanya menampilkan keindahan belaka. Ia sebuah ekspresi untuk menerjemahkan eksistensi, baik bagi mereka yang bisa bersuara lantang, maupun hanya bisa diam menekuni nasib dan tak terjamah oleh telinga masyarakat luas.

Begitulah yang terjadi ketika musik dan teater dipadukan untuk menerjemahkan nasib para penambang pasir di Kabupaten Lima Puluh, Padang Panjang, Sumatera Barat bertajuk “Baromban dan Mitos Tambang” oleh Indonesia Performance Syndicate (IPS).

Pertunjukan musik dan teater itu dibawakan oleh tiga orang pria, yakni Wendy HS, Leva Khudri, dan Emri di atas panggung Galeri Indonesia Kaya (GIK), Jakarta Pusat, Minggu (11/3/2018).

Baromban dan Mitos Tambang sendiri diambil dari buku puisi karya Iyut Fitra dan disutradarai sekaligus dimainkan oleh Wendy HS. Uniknya, pertunjukan musik dan teater ini dimainkan tanpa alat musik pada umumnya.

Hanya bahasa tubuh yang bicara, suara, debum kaki, dan properti semacam pipa-pipa dan paralon menyerupai tiang yang bisa dibunyikan serupa musik. Bisa dikatakan pula, Baromban dan Mitos Tambang ini adalah teater tanpa percakapan.

Tak ada dialog antar pemain. Tetapi sarat akan kritik sosial yang diteriakkan bersahut-sahutan. Kritik sosial yang berasal dari keluhan-keluhan para penambang pasir nun jauh di sana.

Ketika kesejahteraan hanya mitos, makan tiga kali sehari hanya mimpi. Pun demikian ketika anak mesti bayar sekolah dan membayar rumah sakit ketika tertimpa musibah.

"Ada beberapa survei yang kita lakukan di kota itu, di Sumbar sana, tempat menambang pasir cara tradisional. Mereka selama bertahun-tahun berprofesi sebagai penambang, tapi tak pernah sejahtera, selalu kekurangan materi untuk bisa hidup," kata Wendy usai pementasan pada para audiens.



Namun yang membuat Wendy terpana adalah semangat dari para penambang. "Saya lihat mereka tak pernah kehilangan semangat meski biaya hidup mahal," ucapnya.

Ia mengatakan, ada dua riset yang dilakukan sebelum mementaskan Baromban dan Mitos Tambang. Pertama, riset buku puisi Iyut Fitra, kedua riset peraturan pemerintah terkait pertambangan.

"Kami menyuarakan itu (suara para penambang). Kami ingin memberi penyadaran bahwa masyarakat yang tinggal di daerah tambang, hidup tidak sejahtera," ucapnya.

Editor : Tuty Ocktaviany
Artikel Terkait
Music
9 hari lalu

Comeback! Ipang Lazuardi Rilis Album Tumbuh, Rayakan 30 Tahun Bermusik

Seleb
16 hari lalu

Komentar Pedas Pandji Pragiwaksono soal Anggapan Stand Up Comedy Tidak untuk Semua Kalangan

Music
2 bulan lalu

Van Oo Rilis Single Nona Setimba, Ramaikan Musik Indonesia Timur!

Music
2 bulan lalu

Cara Buat YouTube Recap 2025 dan Bagikan Momen Tak Terlupakanmu!

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal