JAKARTA, iNews.id - Banyak hikmah gerhana bulan menurut Islam yang perlu direnungkan agar semakin menambah keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Masyarakat Indonesia akan disuguhkan fenomena alam berupa gerhana bulan total hari ini, Selasa, 3 Maret 2026.
Berdasarkan data astronomi, fenomena langit ini dapat disaksikan di seluruh wilayah Indonesia.Berdasarkan data BMKG, gerhana bulan total akan dimulai pada pukul 18.03 WIB. Puncak gerhana terjadi pukul 18.33 WIB dan berakhir sepenuhnya pukul 21.24 WIB. Total durasi gerhana dari awal hingga akhir mencapai 5 jam 41 menit 51 detik.
Durasi fase parsial berlangsung selama 3 jam 27 menit 47 detik, sedangkan fase totalitas—saat bulan sepenuhnya berada di dalam umbra bumi—berlangsung selama 59 menit 27 detik.
Gerhana kemudian berlanjut ke fase akhir total pada pukul 01.52 WIB, 02.52 WITA, dan 03.52 WIT. Seluruh rangkaian gerhana diperkirakan selesai pada pukul 02.56 WIB, 03.56 WITA, dan 04.56 WIT.
Dalam ajaran Islam, gerhana bulan total maupun sebagian merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah SWT yang mengatur alam raya dan peredaran bulan serta matahari sedemikian rapi dan teraturnya.
Hal ini disebutkan dalam Al Quran, Surat Fushilat ayat 37. Allah SWT berfirman
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Artinya: Dan dari sebagian tanda-tanda-Nya adalah adanya malam dan siang serta adanya matahari dan bulan. Janganlah kamu sujud kepada matahari atau bulan tetapi sujudlah kepada Allah Yang Menciptakan keduanya. (QS. Fushshilat : 37).
Islam juga menekankan bahwa gerhana bulan maupun matahari tidak ada kaitannya dengan kematian maupun kelahiran seseorang, termasuk tanda kesialan di dalamnya.
Nabi SAW bersabda:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِيَ
Artinya: Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebuah tanda dari tanda-tanda Allah SWT. Keduanya tidak menjadi gerhana disebabkan kematian seseorang atau kelahirannya. Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah shalat dan berdoalah hingga selesai fenomena itu. (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad).
Sebaliknya, gerhana bulan harus disikapi dengan banyak melakukan amalan saleh.
Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk melakukan amalan seperti shalat gerhana, banyak berdoa, berdzikir dan membaca istighfar, serta sedekah dan amal-amal kebajikan lainnya.
فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
Artinya: Apabila kamu menyaksikannya maka berdoalah kepada Allah, bertakbir, shalat dan bersedekah. (HR. Bukhari dan Muslim).
Lantas, apa saja hikmah yang bisa diambil oleh umat Islam dari fenomena alam terjadinya gerhana bulan total? berikut ulasan lengkapnya.
1. Bukti Kebesaran Allah
Hikmah gerhana bulan pertama yakni salah satu bukti kebesaran Allah SWT yang telah menciptakan alam semesta dengan sempurna. Dalam hadits lain disebutkan tuntunan Islam saat terjadi gerhana bulan maupun matahari:
سَمِعْتُ الْمُغِيْرَةُ بْنِ شُعْبَةِ يَقُوْلُ اِنْكَسَفَتْ الشَّمْسُ يَوْمَ مَاتَ اِبْرَاهِيْمُ فَقَالَ النَّاسُ اِنْكَسَفَتْ لِمَوْتِ اِبْرَاهِيْمُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَأَيَتَانِ مِنْ أَيَاتِ اللهِ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُواهُمَا فَادْعُوا اللهِ وَصَلّوا حَتَّى يَنْجَلِيَ
Artinya: Aku mendengar Al-Mughirah bin Syu’bah berkata, “Telah terjadi gerhana matahari ketika wafatnya Ibrahim. Kemudian Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, dan ia tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena mati atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana keduanya, maka berdoalah kepada Allah dan dirikan sholat hingga (matahari) kembali tampak.” (H.R. Al-Bukhari).