JAKARTA, iNews.id - Sebagai upaya untuk mendorong konsistensi keberpihakan kebijakan untuk pengembangan hilirisasi mineral tambang dan pengembangan industri logam, para pelaku industri akan membentuk Bauxite Club. Bauxite Club merupakan forum dialog antar negara kaya mineral, khususnya komoditas bauksit.
Pembentukan Bauxite Club ini merupakan inisiatif dari Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan agar meningkatkan kerja sama pertambangan negara-negara di kawasan Asia Afrika. Sebab, dinilai akan semakin membuka peluang usaha dan kerja sama di bidang infrastruktur pertambangan antar negara anggota.
"Dengan adanya Bauxite Club, maka peluang kerja sama dan pertukaran teknologi antar negara-negara anggota akan semakin terbuka," kata Ketua Kelompok Kerja Pembiayaan, Infrastruktur dan Logistik Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), Sony B Harsono dalam keterangan resminya kepada iNews.id, Jumat (23/2/2018).
Untuk komoditas bauksit, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat rekomendasi ekspor sebesar 14,9 juta ton. Namun, realisasi sampai dengan 30 November 2017 baru sebesar 696 ribu ton.
Sementara itu, Wakil ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian, Johnny Darmawan mengatakan berhasilnya hilirisasi mineral tambang ditandai dengan terserapnya produk smelter dalam negeri oleh industri hilir berbasis mineral logam, contohnya industri logam dasar.
”Tanpa adanya industri manufaktur berbasis mineral logam, maka hilirisasi mineral tambang tetap tidak akan memberikan nilai tambah yang tinggi,” ucap Johnny.
Chairman Asia Africa Business Alliance Didie Soewondho menambahkan, forum tersebut akan memiliki peran strategis dalam tatanan global dan turut menyumbangkan kemajuan serta keadilan dunia. ”Sudah saatnya negara-negara kaya mineral Asia-Afrika bergabung, meningkatkan nilai tambah dalam negeri seperti yang telah dilaksanakan pemerintahan Presiden Jokowi-JK sekarang ini,” ujarnya.